Showing posts with label Cerita Seks. Show all posts
Showing posts with label Cerita Seks. Show all posts

Thursday, 31 January 2013

Ngentot dengan Teman Kosku


Cerita dewasa terbaru ini diawali dari Kamarku berada di pojok dekat gudang, lalu di samping gudang ada halaman kecil kira-kira 30 meter persegi, tempat terbuka dan tempat untuk menjemur pakaian. Tanah ibu kostku in cukup luas, kira-kira hampir 50 X 100 m. Ada banyak pohon di samping rumah, di samping belakang juga. Di depan kamarku ada pohon mangga besar yang cukup rindang.

Ngentot dengan Teman Kosku - http://celana-cewek.blogspot.com/

Rasanya nasib baik berpihak padaku. Sejak saat itu, kalau aku berpapasan dengan Sari atau berbicara, aku dapat menangkap gejolak nafsu di dadanya juga. Kami makin akrab. Ketika kami berbelanja kebutuhan Puasa di supermarket, kukatakan terus terang saja kalau aku sangat menginginkannya. Sari diam saja dan memerah lagi, dapat kulihat walau tertunduk.

Aku mengajaknya menikmati malam Minggu tengah malam kalau dia mau. Aku akan menunggu di halaman dekat kamarku, kebetulan semua teman-teman kostku pulang kampung. Yang satu ke Solo, istrinya di sana, tiap Sabtu pasti pulang. Yang satunya pulang ke Temanggung, persiapan Puasa di rumah.




Aku harus siapkan semuanya. Kusiapkan tempat tidurku dengan sprei baru dan sarung bantal baru. Aku mulai menata halaman samping, tapi tidak begitu ketahuan. Ahh, aku ingin menikmati tubuh Sari di halaman, di meja, di rumput dan di kamarku ini. Betapa menggairahkan, seolah aku sudah mendapat jawaban pasti.




Sabtu malam, malam semakin larut. Aku tidur seperti biasanya. Juga semua keluarga ibu kost. Aku memang sudah nekat kalau seandainya ketahuan. Aku sudah tutupi dengan beberapa pakaian yang sengaja kucuci Sabtu sore dan kuletakkan di depan kamarku sebagai penghalang pandangan. Tidak lupa, aku sudah menelan beberapa obat kuat/perangsang seperti yang diiklankan.




Tengah malam hampir jam setengah satu aku keluar. Tidak kulihat Sari mau menanggapi. Kamarnya tetap saja gelap. Seperti biasa, aku mulai melepasi bajuku sampai telanjang, tangan kiriku memegangi tiang jemuran dan tangan kananku mengocok penisku. Sambil kusebut nama Sari, kupejamkan mataku, kubayangkan sedang menikmati tubuh Sari. Sungguh mujur aku waktu itu. Di tengah imajinasiku, dengan tidak kuketahui kedatangannya, Sari telah ada di belakangku.







Tanpa malu dan sungkan dipeluknya aku, sementara tanganku masih terus mengocok penisku. Diciuminya punggungku, sesekali digigitnya, lalu tangannya meraih penisku yang menegang kuat.


"Sari.. Sari.. achh.. achh.. nikmatnya..!" desahku menikmati sensasi di sekujur penisku dan tubuhku yang terangkat tergelincang karena kocokan tangan Sari.
"Uhh.. achh.. Sari, Sari.. ohhh.. aku mau keluar.. ohh.." desahku lagi sambil tetap berdiri.

Kemudian kulihat Sari bergerak ke depanku dan berlutut, lalu dimasukkannya penisku ke mulutnya.
"Oohhh Sari… Uhh Sariii.., Saarrii… Nikmat sekali..!" desahku ketika mulutnya mengulumi penisku kuat-kuat.
Akhirnya aku tidak dapat menahannya lagi, crott.. crot.. crot.., spemaku memenuhi mulut Sari, membasai penisku dan ditelannya. Ahh anak ini sudah punya pengalaman rupanya, pikirku.

Lalu Sari berdiri dengan mulut yang masih menyisakan spermaku, aku memeluknya dan menciuminya. Ahh.., kesampaian benar cita-citaku menikmati tubuhnya yang putih, lembut, sintal dan buah dadanya yang menantang.




Kulumati bibirnya, kusapu wajahnya dengan mulutku. Kulihat dia memakai daster yang cukup tipis. BH dan celana dalamnya kelihatan menerawang jelas. Sambil terus kuciumi Sari, tanganku berkeliaran merayapi punggung, dada dan pantatnya. Ahh.. aku ingin menyetubuhi dari belakang karena sepertinya pantatnya sangat bagus. Aku segera melepaskan tali telami dasternya di atas pundak, kubiarkan jatuh di rumput.

Ahh.., betapa manis pemandangan yang kulihat. Tubuh sintal Sari yang hanya dibalut dengan BH dan celana dalam. Wahhh.., membuat penisku mengeras lagi. Kulumati lagi bibirnya, aku menelusuri lehernya.
"Ehh.., ehhh..!" desis Sari menikmati cumbuanku.
"Ehh.., ehhh..!" sesekali dengan nada agak tinggi ketika tanganku menggapai daerah-daerah sensitifnya.




Kemudian kepalanya mendongak dan buah dadanya kuciumi dari atas. O my God, betapa masih padat dan montok buah dada anak ini. Aku mau menikmatinya dan membuatnya mendesis-desis malam ini. Tanganku yang nakal segera saja melepas kancing BH-nya, kubuang melewati jendela kamarku, entah jatuh di mana, mungkin di meja atau di mana, aku tidak tahu. Uhhh.., aku segera memandangi buah dada yang indah dan montok ini. Wah luar biasa, kuputari kedua bukitnya. Aku tetap berdiri. bergantian kukulumi puting susunya. Ahh.., menggairahkan.




Terkadang dia mendesis, terlebih kalau tangan kananku atau kiriku juga bermain di putingnya, sementara mulutku menguluminya juga. Tubuhnya melonjak-lonjak, sehingga pelukan tangan kanan atau kiriku seolah mau lepas. Sari menegang, menggelinjang-gelinjang dalam pelukanku. Lalu aku kembali ke atas, kutelusuri lehernya dan mulutku berdiam di sana. Tanganku sekarang meraih celana dalamnya, kutarik ke bawah dan kubantu melepas dari kakinya. Jadilah kami berdua telanjang bulat.




Kutangkap kedua tangan Sari dan kuajak menjauh sepanjang tangan, kami berpandangan penuh nafsu di awal bulan ini. Kami sama-sama melihat dan menjelajahi dengan mata tubuh kami masing-masing dan kami sudah saling lupa jarak usia di antara kami. Penisku menempel lagi di tubuhnya, enak rasanya. Aku memutar tubuhnya, kusandarkan di dadaku dan tangannya memeluk leherku.




Kemudian kuremasi buah dadanya dengan tangan kiriku, tangan kananku menjangkau vaginanya. Kulihat taman kecil dengan rumput hitam cukup lebat di sana, lalu kuraba, kucoba sibakkan sedikit selakangannya. Sari tergelincang dan menggeliat-geliat ketika tanganku berhasil menjangkau klitorisnya. Seolah dia berputar pada leherku, mulutnya kubiarkan menganga menikmati sentuhan di klitorisnya sampai terasa semakin basah.

Kubimbing Sari mendekati meja kecil yang kusiapkan di samping gudang. Kusuruh dia membungkuk. Dari belakang, kuremasi kedua buah dadanya. Kulepas dan kuciumi punggungnya hingga turun ke pantatnya. Selangkangannya semakin membuka saja seiring rabaanku.




Setelah itu aku turun ke bawah selakangannya, dan dengan penuh nafsu kujilati vaginanya. Mulutku menjangkau lagi daerah sensitif di vaginanya sampai hampir-hampir kepalaku terjepit.
"Oohh.., ehh.., aku nggak tahan lagi.., masukkan..!" pintanya.

Malam itu, pembaca dapat bayangkan, aku akhirnya dapat memasukkan penisku dari belakang. Kumasukkan penisku sampai terisi penuh liang senggamanya. Saat penetrasi pertama aku terdiam sebelum kemudian kugenjot dan menikmati sensasi orgasme. Aku tidak perduli apakah ada yang mendengarkan desahan kami berdua di halaman belakang. Aku hanya terus menyodok dan menggenjot sampai kami berdua terpuaskan dalam gairah kami masing-masing.




Aku berhasil memuntahkan spermaku ke vaginanya, sementara aku mendapatkan sensasi jepitan vagina yang hebat ketika datang orgasmenya. Aku dibuatnya puas dengan kenyataan imajinasiku malam Minggu itu. Sabtu malam atau minggu dini hari yang benar-benar hebat. Aku bersenggama dengan Sari dalam bebrapa posisi. Terakhir, sebelum posisi konvensioal, aku melakukan lagi posisi 69 di tempat tidur.

Ahh Sari, dia berada dalam pelukanku sampai Minggu pagi jam 8 dan masih tertidur di kamarku. Aku bangun duluan dan agak sedikit kesiangan. Ketika melihat ke luar kamar, ohh tidak ada apa-apa. Kulihat kedua cucu ibu kostku sedang bermain di halaman. Mereka tidak mengetahui di tempat mereka bermain itu telah menjadi bagian sejarah seks hidupku dan Sari.

Pembaca, itulah pengalamanmu dengan Sari di kost. Aku sudah dua malam Minggu bersamanya. Betapa hebat di bulan ini. Aku bisa, aku bisa.. dan mau terus berburu lagi. Ahh.., hidup memang menggairahkan dengan seks, dengan wanita.

Cerita Nafsu Yang Membuat Diri nya mencari lekaki


Cerita nafsu, ya berikut adalah sebuah cerita nafsu seks dari sepasang manusia yang penuh birahi. Cerita nafsu yang menarik untuk anda baca! Karena, cerita ini juga dapat membangkitkan hasrat dan nafsu anda yang membacanya, tidak percaya? Buktikan saja sendiri dengan membaca cerita nafsu berikut ini!

Perkenalkan pembaca namaku Ryan, umurku 22 tahun dan aku sekarang sedang menyelesaikan kuliah di sebuah PTS di Yogyakarta. Pengalaman nyata cerita sex ini terjadi tiga tahun yang lalu ketika aku masih kuliah di Bandung. Sudah lama memang, tapi aku selalu ingat akan kejadian itu dan tak akan pernah aku melupakan satu nama : Cindy. Walau hingga sekarang pun akan selalu kukenang saat-saat indah bersamanya.

Aku akrab dengan Cindy karena ia adalah cucu dari ibu kostku. Cindy lebih tua 2 tahun dan dia anak Surabaya, sedang kuliah di Bandung hanya beda kampus denganku. Yang aku tahu, kedua orangtuanya sudah pisah ranjang selama dua tahun (tapi tidak bercerai) dan Cindy ikut tinggal bersama neneknya (ibu kostku) ketika ia masuk kuliah. Mungkin terlalu panjang kalo kuceritakan bagaimana prosesnya hingga kami berpacaran. Aku beruntung punya cewek seperti dia yang wajahnya sangat cantik (pernah dia ditawarin untuk menjadi model), segala yang diidamkan pria melekat pada dia. Kulitnya yang putih, hidung bangir, matanya yang indah dan bening, rambut ikal serta tubuhnya yang padat.. Aku juga nggak tahu kenapa ibu kost menerimaku untuk nge-kost dirumahnya padahal yang kost di rumahnya adalah cewek semua. Mungkin karena ngeliat tampangku seperti orang baik-baik kali ya (hehehe)…

Pada awal kami berpacaran , Cindy termasuk pelit untuk urusan mesra-mesraan. Jangankan untuk berciuman, minta pegang tangannya saja susahnya minta ampun! Padahal aku termasuk orang yang hypersex, dan aku sering kali melakukan onani untuk melampiaskan nafsu seksku, hingga sekarang. Aku bisa melakukan onani sampai tiga kali sehari. Setiap kali fantasi dan gairah seksku datang, pasti kulakukan kebiasaan jelekku itu. Entah dikamar mandi menggunakan sabun, sambil nonton VCD porno dan seringnya sambil tiduran telungkup di atas kasur sambil kugesek-gesekkan penisku. Aku merasakan nikmat setiap orgasme onani. Back to story, sejak aku dan Cindy resmi jadian, baru dua minggu kemudian dia mau kucium pipinya. Itu pun setelah melalui perdebatan yang panjang, akhirnya ia mau juga kucium pipinya yang mulus itu, dan aku selalu ingin merasakan dan mengecup lagi sejak saat itu.

Hingga pada suatu malam, ketika waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh, aku, Cindy dan Desi (anak kost yang lain) masih asyik menonton TV di ruang tengah. Sementara ibu kostku serta 3 anak kost yang lain sudah pergi tidur. Kami bertiga duduk diatas permadani yang terhampar di ruang tengah. Desi duduk di depan sementara aku dan Cindy duduk agak jauh dibelakangnya. Lampu neon yang menyinari ruangan selalu kami matikan kalau sedang menonton TV. Biar tidak silau kena mata maksudnya. Atau mungkin juga demi menghemat listrik. Yang jelas, cahaya dari TV agak begitu samar dan remang-remang. Desi masih asyik menonton dan Cindy yang disampingku saat itu hanya mengenakan kaos ketat dan rok mini matanya masih konsen menonton film tersebut. Sesekali saat pandangan Desi tertuju pada TV, tanganku iseng-iseng memeluk pinggang Cindy. Entah Cindy terlalu memperhatikan film hingga tangannya tidak menepis saat tanganku memeluk tubuhnya yang padat. Dia malah memegang rambutku, dan membiarkan kepalaku bersandar di pundaknya. Terkadang kalo pas iklan, Cindy pura-pura menepiskan tanganku agar perbuatanku tidak dilihat Desi. Dan saat film diputar lagi, kulingkarkan tanganku kembali.

"I love you, honey…." Bisikku di telinganya.
Cindy menoleh ke arahku dan tanpa sepengetahuan Desi, ia mendaratkan ciumannya ke pipiku. Oh my God, baru pertama kali aku dicium seorang cewek, tanpa aku minta pula. Situasi seperti ini tiba-tiba membuat pikiranku jadi ngeres apalagi saat Cindy meremas tanganku yang saat itu masih melingkar di pinggangnya, dan matanya yang sayu sekilas menoleh ke arah Desi yang masih nongkrong di depan TV. Aman, pikirku.Apalagi ditambah ruangan yang hanya mengandalkan dari cahaya Tv, maka sesekali tanganku meremas payudara Cindy. Cindy menggelinjang, sesekali menahan nafas. Lutut kanannya ditekuk, hingga saat tangan kiriku masuk ke dalam daster bagian bawah yang agak terbuka dari tadi, sama sekali tidak diketahui Desi. Mungkin ia konsen dengan film, atau mungkin juga ia sudah ngantuk karena kulihat dari tadi sesekali ia mengangguk seperti orang ketiduran.

Ciumanku kini sedikit menggelora, menelusuri leher Cindy yang putih mulus sementara tangan kiriku menggesek-gesekkan perlahan vagina Cindy yang masih terbungkus celana dalam. Ia mendesah dan mukanya mendongak ke atas saat kurasakan celana dalamnya mulai basah dan hangat. Mungkin ia merasakan kenikmatan, pikirku.Tanganku yang mulai basah oleh cairan vagina Cindy buru-buru kutarik dari dalam roknya, ketika tiba-tiba Desi bangkit dan melihat ke arah kami berdua. Kami bersikap seolah sedang konsen nonton juga.
"Aku ngantuk. Tidur duluan ya….. nih remote-nya!" ujar Desi sambil menyerahkan remote TV pada Cindy.
Desi kemudian masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Aku yang tadi agak gugup, bersorak girang ketika Desi hanya pamitan mau tidur. Aku pikir dia setidaknya mengetahui perbuatanku dengan Cindy. Bisa mati aku. Cindy yang sejak tadi diam (mungkin karena gugup juga) matanya kini tertuju pada TV. Aku tahu dia juga pura-pura nonton, maka saat tubuhnya kupeluk dan bibirnya kucium dia malah membalas ciumanku.
"Kita jangan disini Say, nanti ketahuan…." Bisiknya diantara ciuman yang menggelora.
Segera kubimbing tangan Cindy bangkit, setelah mematikan TV dan mengunci kamar Cindy, kuajak dia ke kamar sebelah yang kosong. Disini tempatnya aman karena setiap yang akan masuk ke kamar ini harus lewat pintu belakang atau depan. Jalan kami berjingkat supaya orang lain yang telah tertidur tidak mendengar langkah-langkah kami atau ketika kami membuka dan menutup kunci dan pintu kamar tengah dengan perlahan.

Setelah kukunci dari dalam dan kunyalakan lampu kamar kuhampiri Cindy yang telah duduk di tepi ranjang.
"Aku cinta kamu, Cindy….." ujarku ketika aku telah duduk disampingnya.
Mata Cindy menatapku lekat.. Sejenak kulumat bibirnya perlahan dan Cindy pun membalas membuat lidah kami saling beradu. Nafas kami kembali makin memburu menahan rangsangan yang kian menggelora. Desahan bibirnya yang tipis makin mengundang birahi dan nafsuku. Kuturunkan ciumanku ke lehernya dan tangannya menarik rambutku. Nafasnya mendesah. Aku tahu dia sudah terangsang, lalu kulepaskan kaosnya. Payudaranya yang padat berisi ditutupi BH berwarna merah tua. Betapa putih kulitnya, mulus tak ada cacat. Kemudian bibir kami pun berciuman kembali sementara tanganku sibuk melepaskan tali pengikat BH, dan sesaat kemudian kedua payudaranya yang telah mengeras itu kini tanpa ditutupi kain sehelai pun.

Kuusap kedua putingnya, dan Cindy pun tersenyum manja.
"Ayo Yan, lakukanlah…." Ujarnya.
Tak kusia-siakan kesempatan ini, dan mulai kujilati payudaranya bergantian. Sementara tangan Cindy membantu tanganku melepaskan kemeja yang masih kukenakan. Kukecup putingnya hingga dadanya basah mengkilap. Betapa beruntungnya aku bisa menikmati semua yang ada ditubuhnya. Tangan kananku yang nakal mulai merambah turun masuk ke dalam roknya, dan kugesek-gesekkan pelan di bibir vaginanya. Cindy menggelinjang menahan nikmat, sesekali tangannya juga ikut digesek-gesekkan kesekitar vaginanya sendiri.

Bibirnya mendesah menahan kenikmatan. Matanya terpejam, Sebentar kemudian vaginanya mulai sedit basah. Dan kami pun mulai melepaskan celana kami masing-masing hingga tubuh kami benar-benar polos. Betapa indahnya tubuh Cindy, apalagi ketika kulihat vaginanya yang terselip diantara kedua selangkangannya yang putih mulus.
"Wah.. punyamu oke Cindy, Ok's banget…" ujarku terpana
Begitu mulus memang,ditambah dengan bulu-bulu lebat disekitar bagian sensitifnya.
"Burungmu juga besar dan bertenaga. Aku suka Yan…." Balasnya sambil tangannya mencubit pelan kemaluanku yang sudah tegak dari tadi.
"Come on Honey…." Pintanya menggoda.

Aku tahu Cindy sudah begitu terangsang maka kemudian kusuruh Cindy berbaring di atas kasur. Dan aku baringkan tubuhku terbalik, kepalaku berada di kakinya dan sebaliknya(posisi 69). Kucium ujung kakinya pelan dan kemudian ciumanku menuju hutan lebat yang ada diantara kedua selangkangannya. Kukecup pelan bibir vaginanya yang sudah basah, kujilat klitorisnya sementara mulut Cindy sibuk mengocok-ngocok kemaluanku. Bibir vaginanya yang merah itu kulumat habis tak tersisa. Ehm, betapa nikmatnya punyamu Cindy, pikirku. Ciumanku terus menikmati klitoris Cindy, hingga sekitar vaginanya makin basah oleh cairan yang keluar dari vaginanya.

Kedua jari tanganku aku coba masukkan lubang vaginanya dan kurasakan nafas Cindy mendesah pelan ketika jariku kutekan keluar masuk.
"Ahh… nikmat Yannn…ahhhh…" erangnya.
Kugesek-gesekkan kedua jariku diantara bibir klitorisnya dan Cindy makin menahan nikmat. Selang 5 menit kemudian kuhentikan gesekkan tanganku, dan kulihat Cindy sedikit kecewa ketika aku menghentikan permainan jariku.
"Jangan sedih Say, aku masih punya permainan yang menarik, okay?"
"Oke. Sekarang aku yang mengatur permainan ya?" ujarnya.
Aku mengangguk.Jujur saja, aku lebih suka kalau cewek yang agresif.Cindy pun bangkit, dan sementara tubuhku masih terbaring di atas kasur.
"Aku di atas, kamu dibawah, okay? Tapi kamu jangan nusuk dulu ya Say?"
Tanpa menunggu jawabanku tubuh Cindy menindih tubuhku dan tangan kanannnya membimbing penisku yang telah berdiri tegak sejak tadi dan blessss…….ah,Cindy merasa bahagia saat seluruh penisku menembus vaginanya dan terus masuk dan masuk menuju lubang kenikmatan yang paling dalam. Dia mengoyang-goyangkan pantatnya dan sesekali gerakannya memutar, bergerak mundur maju membuat penisku yang tertanam bergerak bebas menikmati ruang dalam "gua"-nya.

Cindy mendesah setiap kali pantatnya turun naik, merasakan peraduan dua senjata yang telah terbenam di dalam surga.Tanganku meremas kedua payudara Cindy yang tadi terus menggelayut manja. Rambutnya dibiarkan tergerai diterpa angin dingin yang terselip diantara kehangatan malam yang kami rasakan saat ini. Kubiarkan Cindy terus menikmati permainan ini. Saat dia asyik dengan permainannya kulingkarkan tanganku dipinggangnya dan kuangkat badanku yang terbaring sejak tadi kemudian lidah kami pun beradu kembali.
"Andainya kita terus bersama seperti ini, betapa bahagianya hidupku ini Cindy " bisikku pelan
"Aku juga, dan ku berharap kita selalu bersama selamanya.."

Sepuluh menit berlalu, kulihat gesekan pinggang Cindy mulai lemah. Aku tahu kalau dia mulai kecapekan dan aku yang mengambil inisiatif serangan. Kutekan naik turun pinggangku, sementara Cindy tetap bertahan diam. Dan suara cep-clep-clep… setiap kali penisku keluar masuk vaginanya.
"Ahh terusss Yannnnn….terusss…nikmattttt…ahh…ahhhh…." hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Cindy, dan aku pun makin menggencarkan seranganku.
Ingin kulibas habis semua yang ada dalam vaginanya. Suara ranjang berderit, menambah hot permainan yang sedang kami lakukan. Kutarik tubuh Cindy tanpa melepaskan penisku yang sedang berlabuh dalam vaginanya dan kusuruh dia berdiri agar kami melakukan gerakan sex sambil berdiri.
"Kamu punya banyak style ya say?" katanya menggoda.
"Iya dong, demi kepuasan kamu juga" jawabku sambil mulai menggesek-gesekan pebisku kembali.
"Ahh teruss…terusss……" desah Cindy ketika penisku berulang kali menerobos vaginanya.

Kupeluk tubuh Cindy erat sementara jari tangan kirinya membelai lembut bulu-bulu vaginanya, dan sesekali membantu penisku masuk kembali setiap kali terlepas. Keringat membasahi tubuh kami. Lehernya yang mulus kucium pelan, sementara nafas kami mulai berdegup kencang.
"Yan, keteteran nih, mau klimaks. Jangan curang dong…."
"Oke, tahan dulu Cindy" dan kucabut batang penisku yang telah basah sejak tadi.
Kusuruh Cindy nungging di ranjang, sementara tanganku mengarahkan penisku yang telah siap masuk kembali. Dan kumasukkan sedikit demi sedikit hingga penisku ambles semua ke dalam surga yang nikmat.
"Ah…tekan Yan…enaaaakkkkk…terusssss Yannn…." Erangnya manja setiap kali penisku menari-nari di dalam vaginanya.
Tanganku memegang pinggangnya agar gerakanku teratur dan penisku tidak terlepas,.
"Ohh…nikmat sekali Yan….teruss….terusss……" desahnya.
Betapa nikmatnya saat-saat seperti ini…dan terus kuulang sementara mulut kami mendesah merasakan kenikmatan yang teramat sangat setiap kali penisku mempermaikan vaginanya.
"Yan….aku mo keluar nih…..udah ngga tahan….ahhh….ahhhh…." ujar Cindy tiba-tiba.
"Tahan Cin, aku juga hampir sampai…." aku menekan-nekan penisku kian cepat,sehingga suara ranjang ikut berderit cepat.
Dan kurasakan otot-otot penisku mengejang keras dan cairan spermaku berkumpul dalam satu titik.

"Aku keluar sekarang Cin…." penisku kucabut dari lubang vaginanya dan Cindypun seketika membalikkan badan dan menjulurkan lidahnya, mengocok-ngocok batang penisku yang kemerahan dan saat kurasakan aku tak mampu menahan lagi kutaruh penisku diantara kedua belah payudaranya dan kedua tangan Cindy pun menggesek-gesekkan payudaranya yang menjepit batang kemaluanku dan….croott…crooottt… spermaku jatuh disekitar dada dan lehernya Sebagian tumpah diatas sprei. Cindy menjilati penisku membersihkan sisa-sisa spermaku yang masih ada.
"Kamu ternyata kuat juga Say, aku hampir tak berdaya dihadapanmu" kubelai rambut Cindy yang sudak acak-acakan tak karuan.
"Aku juga ngga nyangka kamu sehebat ini Yan…."desahnya manja .

Waktu sudah menunjukkan setengah satu malam Dan setelah kami istirahat sekitar lima belas menit, kami memakai pakaian kami kembali dan membereskan tempat tidur yang sudah berantakan. Dan tak lama kemudian kami pun pergi tidur dikamar masing-masing melepaskan rasa lelah setelah kami 'bermain" tadi.

Begitulah kisahku dengan Cindy, setiap hari kami selalu melakukannya setiap kali kami ingin dan ada kesempatan. Kami melakukannya di kamar sebelah kalau malam hari, kamar kostku, atau bahkan dikamar mandi (sambi mandi bareng disaat rumah kost kosong hanya ada kami berdua).

Hingga pada suatu hari Cindy harus pindah ke luar kota ikut kedua orang tuanya yang telah berbaikan lagi. Aku benar-benar kehilangan dia, dan ingin kuterus bersamanya. Pernah beberapa kali kususul ke tempatnya yang baru dan kami melakukannya berkali-kali di hotel tempat kami menginap. Tanggal 27 November 1998, tiba-tiba kuterima surat dari Cindy yang mengabarkan bahwa ia akan menikah dengan orang yang dipilihkan orang tuanya dan aku benar-benar kehilangan dia….. Sekarang, setiap kali aku melakukan masturbasi, fantasiku selalu melayang mengingat saat-saat terindah kami melakukan hubungan seks pertama kali dikamar sebelah itu. Ingin rasanya aku ulangi saat-saat indah itu. Ini adalah cerita nafsu seks antara aku dan Cindy.

Tuesday, 29 January 2013

Cerita Sex Dewasa Dengan Perawat di RSUD


Cerita Panas dan Cerita Seks Dewasa ini berjudul Cerita Sex Dewasa Dengan Perawat di RSUD yang pasti mengundang nafsu birahi yang cukup liar. Cerita Sex Dewasa Tante Girang pun telah kami terbitkan untuk anda dan kini Cerita Sex Dewasa Dengan Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah ini merupakan Informasi Terbaru untuk anda para penjelajah imajinasi seksual untuk menambah gairah Seks yang sangat menggelora di dada anda.



Cerita panas dewasa kali ini adalah cerita panas seks dengan seorang perawat, ceritnya bermula pada waktu aku dirawat di rumah sakit, ada seorang perawat dengan tubuhnya yang sungguh sangat mengoda. Pada suatu pagi perawat yang seksi itu masuk ke ruang dimana aku dirawat, aku sangat terpesona dengan buah pantat padat penuh berisi sehingga aku tak mampu lagi menahan gejolak darah mudahku yang memanas, hingga tanpa sadar tangan kananku menyambar buah pantat perawat yang pada waktu itu sedang membenahi selimutku.

Sungguh kepalang tangung, begitu tangan kananku mendarat di permukakan pantat perawat itu aku terus meremas-remas dengan nafsu yang membara, sehinga aku tak mempedulikan lagi sekeliling sampai pada saat perawat itu mengingatkan aku dengan suara yang begitu lembut bahkan sepertinya suara itu mencoba untuk mengoda dan mempermainkan birahi yang sudah tak tertahankan lagi.

"Ssst.. jangan begitu dong, ini kan masih pagi", ucapnya lembut, aku semakin bernafsu apalagi saat posisi tubuh perawat itu sedang membungkukkan dadanya yang memungkinkan aku memandangi buah dada yang merekah serta mempesona sungguh mengemaskan, apalagi dua kancing bajunya terlepas, atau ada kemungkinan sengaja di bukanya.

Setelah perawat itu merapikan selimut yang menutupi tubuhku, dia meninggalkan kamar tampat aku terkapar dan tersiksa oleh nafsu yang memuncak karena tak tersalurkan. Setelah beberapa menit nafsu itu mereda, aku mulai sadar dan merasa malu dengan tingkah lakuku yang sangat memalukan dan tentunya perawat itu sangat tersinggung terhadap perlakuanku yang tidak senonoh terhadapnya.

Paginya aku berniat untuk meminta maaf kepada perawat yang seksi itu, tapi ternyata perawat lain yang bertugas pada pagi itu. Dan ternyata ada perubahan jadwal, aku semakin merasa berdosa karena mungkin disebabkan tingkah laku kurang ajarku terhadap perawat seksi itu, sehingga dia tidak nyaman lagi menunaikan tugasnya sebagai perawat.

Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam, aku bosan melihat TV dan kumatikan saja TV-nya, aku mulai memikirkan suster seksi yang begitu mempesona dan sangat mengairahkan libidoku yang sangat mudah untuk di pancing, tanpa kusadari alat vitalku semakin mengeras dan secara naluri tanganku menyusup ke dalam pakaian yang menempel di badanku, yang sebenarnya sangat longgar dan praktis hanya sekedar menempel saja karena bentuknya seperti daster pendek dengan tali di sisi kanan kirinya. Dan tanganku mulai meremas-remas pusaka kejantananku. Tiba-tiba ujung kepala pusaka kejantananku serasa dibelai-belai dengan lembut oleh orang lain dan, "Hmm... Bisa aku bantu membelai kepala kecilmu ini?", suara itu terdengar sangat lembut dan mengoda, dan ternyata suara lembut itu keluar dari sepasang bibir yang merah merekah milik perawat seksi itu, dan kedatangannya begitu tiba-tiba hingga tidak kusadari kehadirannya.

Sebelum aku mengeluarkan kata dari mulutku, perawat seksi itu menempelkan telunjuknya ke bibirku, sehingga aku tidak mampu berbuat apa-apa lagi selain tidur telentang serta memandangi gadis seksi berseragam perawat itu dengan kaki yang masih di semen dan menggantung.

Perawat itu satu persatu membuka kancing bajunya, lalu di biarkannya seragam itu merambat turun jatuh ke lantai. Buah dada yang mempesona itu tampak samakin mempesona, apalagi setelah penutup dada yang terlihat kecil di banding gumpalan daging mulus yang besar dan berisi, membuat tubuhku semakin bergetar dengan nafsu yang tak mampu kukendalikan lagi.

"Kamu pasti selalu memikirkan aku atau paling tidak berfantasi tentang tubuh ini. Sekarang kamu bisa melihatnya dengan jelas bahkan kamu bisa memegang sekaligus merasakan tubuhku ini." Gadis itu semakin mendekat, hingga tanganku mampu membelai lembut kulit mulus itu.

Perawat tak berseragam itu mencium bibirku dan aku pun tak mau kalah lalu berusaha melumat bibir dan mempermainkan lidahnya, setelah itu kemudian dia naik ke atas tubuhku dengan posisi pantat di atas kepalaku dan kepalanya di atas selangkanganku, dengan lembut dia menyingkap kain yang menutup selangkanganku, karena aku tidak memakai celana dalam sehingga dengan mudahnya perawat itu menelanjangi selangkanganku kemudian dia mengenggam dan meremas-remas hingga pelirku mengeras lalu dia lembutnya menjilati kepala pusakaku yang sudah membengkak itu.

"Ayo dong, mainin juga punyaku", tegur perawat itu di sela-sela kesibukannya. Tanpa pikir panjang lagi aku melepas celana mungil berwarna pink itu lalu kusingkap rambut yang munutupi liang kewanitaannya, kubelai-belai dengan lembut belahan bibir kewanitaan itu dan aku mulai mempermainkannya dengan lidahku, terasa olehku aroma yang nikmat.

"Eest... nikmatnya mmh.. uuh..!" Perawat itu mendesah terdengar sangat erotis sekali. "Aaah... huuh..!" Kurasakan begitu nikmatnya serangan yang ia gencarkan, dengan semangat aku menjulurkan lidahku dalam belahan bibir senggamanya yang mempesona itu, kemudian setelah liang sorganya mulai mengeluarkan cairan kenikmatan, kugigit lembut klitoris di liang kewanitaannya, "Ssst.. hhm.. gitu dong kan nikmat, pintar juga kamu huuu.. esst.." Desah perawat itu di tengah deraian birahi yang mengelora. Setelah beberapa lama kemudian dia turun lalu mengambil sesuatu dari saku seragamnya yang tergeletak di lantai, lalu dia kembali mendekat terus ia menyobek bungkusnya dan ternyata barang itu sebuah kondom, setelah itu dia memakaikan kondom tersebut ke batang kejantananku yang sudah keras dan membengkak.

Kemudian sekarang dia menggambil posisi nangkring di atas selangkanganku, lalu dia berusaha memasukkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, begitu kepala kemaluanku sudah dalam posisi yang tepat dia menghempaskan pantatnya ke bawah sampai seluruh batang pelirku tertelan ke dalam liang kewanitaannya, dengan lembut dia mengangkat pantatnya, lalu menghempaskannya lagi, gerakan itu terus ia lakukan dengan mulutnya tak henti-hentinya mendesah dan terlihat olehku kedua buah dadanya yang montok itu ikut terpantul-pantul naik turun begitu indahnya, aku berusaha meraih buah dada itu kemudian aku meremas-remas sambil kupermainkan putingnya dengan jari-jariku.

Desahan yang saling bertautan terdengar semakin membahana, hingga kurasakan tubuh perawat itu menegang, kemudian kurasakan cairan hangat menyembur di batang kemaluanku yang berada di dalam liang senggamanya dengan dibarengi desahan panjang. Tak lama kemudian kurasakan hormonku mengumpul pada satu tempat lalu tanpa dapat kubendung lagi, kejantananku menyemburkan cairan sperma. Sampailah kami pada puncak kenikmatan yang kami dambakan.

"Hhhm... boleh juga kejantananmu", terlihat air muka perawat itu penuh kepuasan. Setelah dia mengenakan kembali seragamnya tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya ia berlalu keluar ruangan dan meninggalkan celana dalam pink yang masih kugenggam dan batang kemaluanku masih terbungkus kondom dengan sperma di ujungnya, aku sendiri merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih tertinggal dalam diriku.

Sekian Cerita Sex Dewasa Dengan Perawat di RSUD semoga saja bisa memuaskan nafsu birahi anda yang lagi turun saat ini karena aktivitas setiap hari yang berlebihan.


Cerita Sex Ngentot dengan Tante | Terbaru 2013


Cerita Sex Ngentot dengan Tante | Terbaru 2012 - Kebanyakan orang dewasa tentu tahu arti ngentot, tapi bocah! Nah ada cerita lucu nih tentang anak kecil masih umur 7 tahun tanya apa itu ngentot ke tantenya. Udah nafsu ingin tahu apa yang terjadi, silahkan saja simak cerita dibawah ini.

Alkisah ada seorang anak bernama Anu umur 6-9 tahun sedang asik buka-buka internet, ketika sedang facebook-an. Singkat cerita Salah satu teman facebooknya update status yang isinya gini "Cih tadi malem ane nggak bisa ngentot", Si anu yang penasaran kemudian mereply status tersebut dengan lugu dan polosnya bertanya "apa itu ngentot kk"..

Dan dijawab si pemilik status dengan judesnya "Tanya aja sama tante loe..

Lalu si anu bertanya dengan polos kembali "Kenapa harus tanya ke tante saya emang apa hubungannya kk". Si pemilik status dengan jengkelnya "Ya! Karena dia orang dewasa gitu loh". Si anu menjawab "berarti kk nggak dewasa deh", si pemilik status "No Comment"..

Sebenarnya si anu ingin tanya lebih lanjut… tapi keburu biling warnet udah mendekati dana yang tidak bisa ditolerir oleh kantongnya. Ya udah terpaksa pulang kerumah, nah cerita berlanjut di situ.

Kemudian si Anu mencari-cari dimana Ibunya berada, "Mama kamu di mana "..

Ibu : Sedang cuci nak

Singkat cerita si anak ke belakang untuk bertemu dengan ibunya yang sudah dewasa

Anu : Bu, tante ke mana, Anu ada sebuah Ganjalan Hati yang ingin Anu keluarkan untuk di jawab ama Tante. (busyet masih kecil bisa aja berpuisi)

Ibu : Tante… Ya ampun nak,!! Ibu sama bapak itu anak tanggal semua, jadi ya nggak punya Tante

Anu : (terbengong tanpa berkata apa-apa kecuali dalam hatinya)… Busyet jadi gue nggak bisa tahu apa arti ngentot itu donk!!!

Akhir cerita si anu gagal mengetahui arti ngentot yang sebenarnya, Dengan alasan yang tidak terduga sama sekali yaitu karena dia tidak mempunyai Tante.

Bertahun-tahun kemudian arti kata ngentot masih tidur dalam pikirannya. Saat ini anu sudah beranjak dewasa. Dan sampai detik ini dia masih kepikiran tentang apakah itu ngentot. Akhirnya dia menulis sebuah "Puisi" yang memiliki cerita ngentot yang berakhir karena tidak punya tante.

Seandainya dalam cerita itu si anu memiliki tante tentu sekarang dia sudah tahu apa itu ngentot, seadainya kakeknya mau membuat satu lagi anak perempuan, pasti sekarang dia tahu apa itu ngentot, Tapi ya sudahlah apa yang terjadi biarkan terjadi dan biarkan seperti air yang selalu mengalir ke lautan..

Kesimpulan…

Jika kamu tidak tahu arti sebuah kata pergilah ke perpustakaan dan carilah BUKU BESAR BAHASA INDONESIA. dan cari kata ngentot disana. Kalau perpustakaan kamu tidak memilikinya, silahkan pinjam ke tante kamu!!

Cerita ngentot Tante Bag II


Alkisah seorang bapak sedang membaca cerita dewasa di internet, karena bapak itu adalah orang alim (sampai dia membuka internet) dia tidak begitu mengerti berbagai istilah dalam dunia maya. Salah satu dari sekian banyak cerita itu menggunakan kata ngentot, tentu si bapak ingin tahu apa itu artinya. Supaya bisa meresapi seluruh cerita dengan seksama!

Akhirnya si bapak dengan penuh nafsu bertanya kepada tante yang sedang jaga warnet, Maaf mbak ngentot itu apa !? Si Tante agak kaget mendapat pertanyaan aneh itu. Dengan berlagak sopan si tante cuman jawab "Mohon maaf pak saya tidak tahu". Padahal waktu itu si tante juga sedang baca cerita dewasa di monitornya.

Lho itu di monitor mbak ada cerita dewasa ngentot yang juga saya baca!?

Si tante yang kebingugan pun menjawab "Itu namanya virus…"

Oooh si bapak cuman berbisik dalam hati 'Oh ngentot itu virus toh…"
Cerita yang wajib dibaca

Salah satu dari sekian banyak cerita dewasa dan menggunakan kata-kata nafsu seperti ngentot banyak bertebaran di internet. Membuat banyak orang bingung dengan berbagai istilah baru terutama bagi orang yang merasa alim sok suci. Apakah 100% cerita itu benar, ya tentu saja bohong!!!

Ada lho cerita ngentot yang benar-benar lucu seperti 2 cerita diatas yang mengisahkan petualangan si anu dan bapak dalam mencari tahu arti kata ngentot.

Bagi pembaca yang tidak tahu arti ngentot berarti ada dua kemungkinan

* Pembaca masih belum dewasa
* Pembaca adalah orang alim sok suci

Jika pingin tahu arti ngentot, silahkan pakai dua cara ini untuk mengetahuinya

* Tanyakan tante kamu yang sudah berusia dewasa
* Tanyakan penjaga warnet kamu

Setelah itu yang jadi pertanyaan apakah kamu akan senasib dengan 2 cerita diatas he he
Puisi tentang Ngentot

Tiada cerita yang tamat seperti bumi yang berputar

Ada dewasa dalam umur untuk memahami

Untuk sesulit memahami ngentot

Tidak perlu pakai nafsu untuk bertanya sesuatu yang tidak dewasa

Tapi bertanyalah kepada sebuah nama dalam cerita

Tanyakan apa itu ngentot kepada Tante

Jika tante kamu tidak tahu apa itu ngentot, pergilah ke warnet dan tanya penjaga warnet apa itu artinya ngentot. Dan buatlah cerita lucu jika apa yang kamu alami setelah bertanya itu lucu. Dan buatlah puisi jika kamu seorang penjaga.

Salah satu cerita yang paling lucu dalam soal ngentot adalah jika ada seorang yang membaca cerita yang salah tentang arti dewasa. Semuanya gratis jika kita berbicara tentang tante…
Cerita ngentot yang paling nggak lucu

Ada seorang sersan yang bertanya kepada anak buahnya. Kamu tahu arti ngentot. Si anak buah cuman menjawab saya nggak tahu pak. Kemudian si sersan dengan marahnya berkaya "tanya aja sama tante kamu". Si anak buah menjawab 'Saya nggak punya tante pak". Si sersan pun marah-marah dan memanggil nenek si anak buah…

Nek, kenapa anda tidak melahirkan anak perempuan supaya anak buah saya punya tante dan dia bisa bertanya tentang ngentot. Si nenek pun hanya terdiam. Si sersan yang marah akhirnya memenjarakan si nenek dengan tuduhan "GAGAL dalam membuat tante".

Komnas HAM yang mendengar cerita tentang nenek yang dipenjara karena gagal membuatkan Tante untuk cucunya pun tidak tinggal diam. Si sersan akhirnya dilaporkan kepada atasannya dan dipecat. Si anak buah akhirnya dipromosikan sebagai sersan dan menggantikan sersan itu untuk bertanya kepada anakbuahnya

Tentang arti ngentot….

Eh ternyata si sersan yang dipecat itu adalah si Anu (baca cerita diatas) yang masih kepikiran tentang arti ngentot. Sejak si ibu memberitahu bahwa dia tidak punya tante. Si anu pun menyalahkan kakek-neneknya yang tidak mau membuatkan tante. Dan akhirnya setiap kali melihat orang berwajah tua bawaannya marah melulu.

Semoga cerita dewasa diatas tentang ngentot dapat membawah angin perubahan yang akan memebuat anda tertawa terpingkal-pingkal

Cerita Seks Dewasa MENIK DAN AYAH ANGKATNYA











Cerita Seks Dewasa MENIK DAN AYAH ANGKATNYA - Menik adalah

sepupuku. Gadis cantik yang

penampilan sehari-harinya lincah lagi




polos ini dari penampilan luarnya

seolah-olah dia seperti seorang

perawan lugu yang belum mengerti hubungan dengan lelaki, tapi siapa

mengira dibalik itu dia justru punya

skandal dengan ayah angkatnya

sendiri. Keintiman ini sudah bermula di

antara Menik dengan ayah

angkatnya sejak dari Menik berusia

14 tahun. Menik yang

pertumbuhannya mulai meningkat

remaja dan semakin cantik serta menggiurkan, sudah dijadikan alat

bantu ayah angkatnya untuk mengisi

kesepiannya setelah beberapa bulan

ditinggal mati istrinya. Menik adalah

keponakan dari almarhum istri Pak

Hendro. Awalnya, sesaat setelah menduda, Pak Hendro yang seorang

staf perusahaan perminyakan

dipindah-tugaskan ke Sumatera. Dia

berangkat dengan mengajak Menik

menemaninya di tempat tugas

barunya. Hari-hari berlalu, di tempat yang sepi kurang hiburan itulah

perhatian Pak Hendro yang kesepian

mulai tertuju kepada Menik yang saat

itu sedang bertumbuh semakin

cantik dan menggiurkan.

Pendekatannya pun mudah, karena Menik memang akrab sekali dengan

ayah angkatnya ini, sehingga

dibujuki sedikit saja dia pasti

menurut. Mulailah Menik diperlakukan sebagai

teman bercinta Pak Hendro

mengganti ketiadaan istrinya, hanya

saja dengan cara terbatas. Setiap

bertemu di rumah, Pak Hendro selalu

mengerjai Menik, mulai dari sekedar dipeluk-peluki, diciumi, atau digeluti.

Lalu meningkat lebih jauh mulai

diajak tidur bersama untuk dicumbui

dan digerayangi seputar tubuh gadis

remaja itu. Dan berikutnya lagi makin

saling terbuka, telanjang bulat mandi bersama dan mulai dinikmati tubuh

polos gadis itu lewat remasan gemas

dan kecap mulut di bagian-bagian

kewanitaannya. Sampai akhirnya

Menik mulai diajari cara-cara oral

seks, menghisapi kemaluan untuk memberi kesenangan bagi lelaki.

Pokoknya tidak ada lagi yang

disembunyikan di antara mereka.

Namun begitu, satu hal yang masih

dijaga Pak Hendro, yaitu dia masih

tidak tega untuk memasukkan kemaluannya untuk merenggut

keperawanan Menik. Sedikit mengulas keakraban mereka,

bisa dilihat dari bagaimana

pertemuan mesra mereka ketika hari

itu Pak Hendro pulang dari urusan di

Jakarta selama lima hari. Baru saja

bertemu di rumah, sudah disambut Menik yang meloncat senang,

menggelendot di leher dan kaki

membelit di pinggang ayah

angkatnya. Pak Hendro juga sama

rindunya dengan gadis manja

kesayangannya ini, tapi tidak terang- terangan di ruang tamu, melainkan

menggendong dulu membawa Menik

ke kamar tidur, baru dari situ

langsung didekap dan diciuminya

bertubi-tubi seputar wajah si gadis

untuk kemudian menutupnya dengan ciuman bibir bertemu bibir.

Sebentar saja keduanya sudah saling

meluapkan kerinduan dengan saling

melumat dalam dengan sepenuh

perasaan sebelum kemudian

terlepas, dan Menik turun dari gendongan untuk membantu

membereskan barangbarang

bawaan Pak Hendro sambil saling

menceritakan keadaan masing-

masing selama berpisah. Selepas itu, barulah acara

membersihkan badan. Setelah Menik selesai membuka

keran bak rendam, "Ayo mandi

sama-sama Yayah, Nik..?" kata Pak Hendro mengajak yang segera

dianggukkan Menik dan langsung

membuka bajunya sendiri mengikuti

Pak Hendro yang sudah lebih dulu

bertelanjang. Yayah adalah panggilan manja Menik

kepada Pak Hendro. Begitu selesai,

dia pun segera mendekati Pak

Hendro yang saat itu sudah akan

bergerak ke kamar mandi. "Ntar dulu Yah, gendong dulu

dong..!" katanya dengan manja. Menahan langkah Pak Hendro, dia

pun meloncat ke pelukan ayah

angkatnya itu. Bergelendot manja

lagi di leher dengan kedua kaki

membelit pinggang Pak Hendro

seperti tadi, dia pun langsung digendong dibawa ke kamar mandi. Berikutnya di bak kamar mandi,

keduanya mandi bersama dengan

saling membantu menyabuni dan

menyirami tubuh masing-masing.

Pada waktu itu jika melihat bentuk

tubuh Pak Hendro, kesannya memang angker dengan sosoknya

yang tegap dan gempal, termasuk

juga ukuran alat vital yang

dimilikinya yang cukup lumayan

besar. Tapi bagi Menik yang sudah

biasa begini, tentu saja kesan menakutkan tidak ada lagi. Malah dia

paling suka kalau disuruh

mempermainkan batang kemaluan

ayah angkatnya ini, karena ada rasa

geli-geli senang jika merasakan

batang yang semula lemas, besarnya hanya seukuran lebih besar sedikit

dari jempol kaki itu, akan mekar

mengembang lipat dua dalam

genggaman kulumannya, menjadi

panjang dan besar seukuran pisang

ambon. Seperti juga saat ini, sambil menyabuni tubuh Pak Hendro, dia

menyempatkan mempermainkan

batang kejantanan itu. Terasa

olehnya batang itu sudah menegang

setengah keras. Begitulah kegiatan yang sering

mereka lakukan, sampai dengan

selesai membersihkan tubuh dan

keluar dari bak mandi, terlihat lagi

milik ayah angkatnya. Hal ini

membuat Menik tertarik, karena dari tadi batang itu masih setengah

menegang saja. Keduanya masih

belum menyeka tubuh mereka

dengan handuk saat itu.




"Iddih Yah, kok dari tadi masih keras

aja sih. Padahal udah bolak-balik Nik

guyur pake aer dingin…" kata Menik

dengan nada khas remajanya yang

polos sambil mengulurkan

tangannya memegang batang itu. Pak Hendro hanya tersenyum geli,

"Iya, itu tandanya dia udah

kepengen disayang-sayangin lagi

sama Mbak Niknya." "Tapi.., kata Yayah di Jakarta mau

dipakein ke lobangnya orang

perempuan. Emang nggak sempet ya

Yah ?" tanya Menik meskipun masih

muda sekali tapi sudah diberi

pengertian tentang arti hubungan seks yang sebenarnya. "Sempet sih sempet, tapi ketemu

Mbak Niknya kan tetep aja kangen." Menik tersenyum senang

mendengarnya. Dia mengocok

sebentar batang itu sambil berkata, "Mau Ning isepin sekarang ya Yah..?"

tanyanya menawarkan permainan

yang sudah biasa dilakukan sesuai

ajaran Pak Hendro. "Sebentar, sebentar, Yayah mau

puas-puasin dulu sama Kamu." kata

Pak Hendro. Tanpa menunggu jawaban Menik, dia

sudah langsung membawa si gadis

ke dekat meja washtafel dan

mendudukkan Menik di situ. Meja itu

cukup tinggi, sehingga dengan

hanya sedikit membungkuk dan menundukkan kepalanya Pak

Hendro sudah bisa mencapai kedua

susu Menik. Langsung saja bukit

dada si gadis yang meskipun masih

remaja tapi sudah cukup menonjol

mengkal itu dilahap dan disedot serta dihisap bergantian dengan rakus. Menik yang sudah terbiasa begini

hanya meringis-ringis kegelian,

membiarkan ayah angkatnya sibuk

menghisapi susunya, sementara dia

sendiri menjulurkan tangannya

membantu meremas-remas penis Pak Hendro. Ada beberapa saat Pak Hendro

memuaskan mulutnya di bagian itu

sampai kemudian menggeser

mulutnya turun ke arah liang

keperawanan Menik. Sambil begitu

dia meminta Menik bersandar ke dinding kaca di belakangnya untuk

kemudian mengangkat kedua kaki

Menik. Telapaknya diletakkan di tepi

meja, sehingga Menik jadi

terkangkang dengan kemaluan

terkuak lebar-lebar. Sekarang bagian kemaluan perawan remaja yang

masih gundul belum ditumbuhi bulu-

bulu itu jadi sasaran kecap mulut Pak

Hendro. Bukit daging kemerah-

merahan ini disosornya sama

rakusnya, diikuti jilatan dan gigitan- gigitan kecil di kelentit yang diterima

Menik sesekali menjengkit-jengkit

dan merengek kegelian. "Aaaa ge-yyi Yaah… hiiii ssshh

Yayahh nyangan di gigitt gi-tu

Yahh…" nada manja

kekanakkanakannya pun mulai

terdengar, tanda dia juga senang

diperlakukan begini oleh ayah angkatnya. Disini pun Pak Hendro cukup lama

memuaskan kecap mulutnya

sebelum kemudian berhenti dan

mengangkat kepalanya. "Ayo Nik.., tempel-tempelin dulu di

punyakmu biar tambah cepet

kepengennya biar nanti lebih

gampang keluarin aernya…" kata

Pak Hendro meminta. Yang begini pun bagi Menik sudah

terbiasa, tanpa menunggu diminta

dua kali diturutinya permintaan ini

dengan mengambil batang

kejantanan Pak Hendro yang sudah

menegang itu dan menempelkan ujung kepala bulatnya digesek-

gesekkan di mulut lubang

kemaluannya. Reaksinya cepat

karena sebentar kemudian dilihatnya

air muka Pak Hendro menegang

diburu nafsunya, sementara bagi Menik sendiri main-main seperti ini

juga selalu menimbulkan perasaan

aneh tersendiri baginya. Rangsangan

asyik yang masih belum dikenal

artinya, bergejolak di dalam perutnya

dan membuat liang keperawanannya seolah gatal ingin memasukkan

batang ini ke dalam lubangnya. Ada

rasa menuntut di situ, apalagi jika

ujung batang kejantanan itu makin

ditekan sedikit ke dalam, semakin

penasaran rasa enak yang ingin diraihnya. Dalam keadaan begini, praktis Menik

sudah tenggelam pasrah dituntut

berahi nafsunya, maka tinggal

ditekan lebih jauh pasti akan

disambut Menik dan berarti sudah

bisa Pak Hendro menggagahi remaja polos itu. Tapi di sinilah hebatnya

disiplin pribadi Pak Hendro demi

sayangnya kepada anak angkatnya.

Walau setiap kali berisengnya sudah

sampai sedemikian kritis, tapi selalu

saja dia bisa menahan diri untuk menghindar. Sesaat sebelum

pikirannya buntu, dia pun cepat

mencabut batangnya sambil

membawa tubuh Menik turun dari

meja washtafel. Menik mengira bahwa sekaranglah

saatnya dia diminta untuk

melakukan locokan hisapnya guna

membantu Pak Hendro mencapai

tuntutan kelelakiannya. Tetapi

rupanya ada perubahan acara, Pak Hendro ingin menyelesaikannya

dengan cara lain. Dia tetap menyuruh

Menik berdiri di depannya untuk

kemudian dia sendiri sedikit

menekuk kakinya merendahkan

tubuhnya, dari situdia meletakkan batang kejantanannya terjepit di

selangkangan Menik, persis

menempel di bawah kemaluannya. "Nah, Yayah mau coba bikin gini aja,

nggak usak pake dilocok tangan."

katanya seraya mulai memainkan

pantatnya maju mundur. Caranya persis seperti sedang

bersetubuh dalam posisi berdiri,

hanya saja batang keperkasaannya

tidak dimasukkan ke lubang

senggama Menik. Sambil

menggoyang keluar masuk batangnya yang tergesek-gesek di

celah liang keperawan Menik, Pak

Hendro juga menambahi rasa

dengan mendekap Menik,

mengajaknya berciuman hangat.

Diimbangi oleh Menik dengan juga merangkul ketat leher Pak Hendro,

membalas saling melumat bergelut

lidah.




Ternyata meskipun tidak sempurna,

tapi cara begini bisa juga membuat

Pak Hendro mencapai ejakulasinya.

Sebentar kemudian dia pun tiba di

puncaknya dengan menyemburkan

cairan maninya, tanda dia sudah bisa mengakhiri permainan dengan lega.

Itulah permainan iseng sehari-hari

Pak Hendro dengan Menik yang

boleh dibilang kritis karena cuma

tinggal memasukkan batangnya ke

liang keperawanan Menik saja yang belum dilakukan Pak Hendro. Tapi

yang begini cuma sementara. Cara

hidup unik ini bagi Menik

pengaruhnya besar juga. Bagaimana

tidak, kalau mengikuti

perkembangan cara mereka, rasanya cuma tinggal tunggu waktu saja

untuk Menik mendapatkan rasa seks

yang sebenarnya. Apalagi

belakangan ini Menik pernah

menyaksikan sendiri bagaimana

adegan hangat ayah angkatnya yang bercinta dengan Mbak Tikah,

seorang gadis pemijit yang sering

dipanggil Pak Hendro untuk memijit

di rumahnya, tapi sekaligus sebagai

tempat penyaluran tuntutan

kelelakian Pak Hendro. Dari sejak awal Menik sudah curiga

bahwa ayah angkatnya punya

hubungan intim dengan Tikah, gadis

pemijit yang diperkenalkan oleh

sopir pribadi mereka. Karena dalam

acara memijit yang biasa mengambil tempat di ruang baca itu, mereka

berdua selalu mengunci pintu

berlama-lama di situ. Memang

mulanya kelihatan biasa-biasa saja,

tapi pernah sekali Menik memergoki

bahwa tubuh Tikah secara mencuri- curi sering digerayangi tangan Pak

Hendro. Ini yang membuat Menik

penasaran dan suatu waktu dia

sengaja mengatur waktu untuk

membuktikan sendiri sampai dimana

hubungan Pak Hendro dengan Tikah. Begitulah suatu kali kesempatan Pak

Hendro minta dipijit Tikah di tempat

biasa di ruang baca, Menik yang tadi

pura-pura pamitan ke rumah teman

padahal sudah menyelinap

bersembunyi di kolong ranjang ruang tidur pak Hendro menunggu

kesempatan untuk mengintip. Di

antara kedua ruang baca dan ruang

tidur Pak Hendro ada pintu

penghubung, Menik menunggu

sampai dirasa aman baru dia mengendap-endap mencapai pintu

penghubung dengan rasa tegang

karena didapatinya suasana kamar

sebelah sepi sekali. Di lubang pintu

penghubung itu sebagaimana pintu-

pintu lainnya juga dipasang sehelai gordyn tebal. Biasanya pintu ini juga

dikunci oleh Pak Hendro kalau

sedang berdua dengan Tikah, tapi

karena diketahuinya Menik tidak di

rumah maka Pak Hendro sudah

merasa aman dengan membiarkan pintu itu terbuka, sehingga Menik

punya kesempatan mengintip ke situ. Apa yang ditunggu Menik memang

tepat, bahkan kebetulan sekali

karena rupanya saat itu sudah

masuk di babak Pak Hendro akan

mengerjai Tikah. Mereka sudah

langsung mulai karena begitu Menik melihat ke dalam, dia sudah

mendapatkan bagaimana keduanya

sudah bersiap-siap untuk masuk ke

permainan seks dengan Pak Hendro.

Saat itu sedang merangsang berahi

Tikah. Di situ sambil masih tetap berada di atas permadani tebal

tempat mereka biasa memijit,

nampak Pak Hendro yang berbaring

telentang sedang menggerayangi

tubuh Tikah yang duduk di atas

perutnya. Waktu itu kedua posisi mereka agak membelakangi Menik,

sehingga tidak bisa terlihat jelas, tapi

Menik bisa melihat bahwa tangan Pak

Hendro sedang bermain meremas-

remas susu Tikah yang masih

tertutup kain. Tikah dalam acara memijit ini mengenakan sehelai

handuk yang dililit sebatas dadanya. Berdebaran tegang Menik menonton

pemandangan di depannya, nampak

Tikah mandah saja menggeliat-geliat

kegelian dengan muka genit malu-

malu kegelian mendapat gerayangan

nakal Pak Hendro di kedua susunya. Malah dia kemudian

membungkukkan tubuhnya

mengikuti pelukan Pak Hendro,

menyandarkan kepalanya manja di

dada Pak Hendro. Sebentar

keduanya saling merapat pipi bertemu pipi seperti ada yang

dibisikkan Pak Hendro di telinga

Tikah, karena tiba-tiba Tikah bangun

duduk tegak dan berikutnya masih

dengan muka genit malu-malu Tikah

membuka lepas handuk penutupnya menampilkan bebas tubuh

telanjangnya. Karena di balik kain

tadi Tikah memang tidak

mengenakan pakaian dalam.

Sekarang melihat bagaimana Tikah

sedang menyodorkan bagian kewanitaannya untuk dinikmati Pak

Hendro, hal ini membuat Menik

semakin tertarik penasaran. Memang

tubuh Tikah tidak semulus dan

secantik Menik, tapi berharap pada

adegan kelanjutannya menimbulkan rangsangan hebat pada Menik,

disamping juga rasa kepingin tahu

yang besar ingin melihat bagaimana

caranya pasangan laki perempuan

bersanggama. Sekarang terlihat gerakan Pak

Hendro bangun duduk, sementara

Tikah hanya mengangkat duduknya

berlutut merapat pada Pak Hendro. "Ahsshh…" terdengar Tikah

mengerang dan setelah itu menggigit

bibirnya malu-malu geli ketika dia

mulai mendapat rangsangan Pak

Hendro sekaligus di dua tempat, yaitu

mulut Pak Hendro melahap sebelah puncak susunya dan sebelah tangan

Pak Hendro bekerja mengusap-usap

tengah selangkangannya.




Rangsangan mulai meningkat

dengan makin sibuknya Pak Hendro

berpindah-pindah mengenyoti

kedua susunya, sementara tangan

yang di selangkangan juga

bergerak-gerak seperti sedang meremas-remas sambil pasti ikut

mengiliki kelentitnya, geli asiknya

mulai diterima Tikah terbaca dari

mimik wajahnya yang sekarang

merona merah dalam mata terpejam

serius dan bibir setengah merekah tegang. Sesekali ada gerakan Tikah

mengejang kegelian dengan menarik

pantatnya menungging, tapi tidak

menghindar membiarkan tubuh

telanjangnya dipuasi Pak Hendro.

Sebelah tangannya malah membantu menonjolkan bukit susunya tersodor

dikecapi Pak Hendro, sedang sebelah

tangan lagi bertopang di pundak Pak

Hendro. Ada beberapa saat seperti

itu, tapi di tengahnya ada gerakan

baru, yaitu sebelah tangan Pak Hendro yang bebas mulai

merangsang kejantanannya dengan

menggenggam dan meremas-remas

batangnya agar menjadi lebih kaku. Semua ini dari tempat mengintip

Menik cukup jelas dilihat, karena

jaraknya cuma sekitar 3 meter dan

posisi Tikah sekarang agak serong

menghadap ke arahnya. Rupanya

acara merangsang gairah berahi Tikah dan membangkitkan

kejantanan sendiri oleh Pak Hendro,

meskipun sebentar tapi sudah

dianggap cukup, karena Pak Hendro

baru saja berhenti dan meminta

Tikah mengambil posisi berbaring menelentang tetap di atas permadani

itu. Mereka nampaknya

mempersingkat waktu agar tidak

terlalu lama dan dicurigai para

penunggu rumah. Tikah langsung berbaring

mengangkang sesuai permintaan

Pak Hendro, matanya ditutup rapat-

rapat menunggu Pak Hendro

mengatur posisinya untuk mulai

memasukkan batang kejantanan ke liang senggamanya. Merapat dia

dengan kedudukkan tegak berlutut,

kedua paha Tikah ditumpangkan ke

atas masing-masing pahanya,

sebentar Pak Hendro masih melocoki

batang kejantanannya sendiri yang dari tadi tetap dipegangi terus,

sementara tangan sebelah jari-jarinya

membasahi lubang kewanitaan Tikah

dengan ludahnya agar membuat

lebih licin lagi. Sebentar kemudian

batang kaku Pak Hendro mulai dimasukkan ke liang kewanitaan

Tikah, Menik membaca mimik wajah

Tikah agak mengernyit dengan

kedua kelopak matanya yang

terpejam erat. Rahangnya menganga

kaku menunggu batang ditusukkan ke kemaluannya dan yang mulai

dimainkan Pak Hendro keluar masuk

pelan-pelan. Ternyata reaksi yang ingin dilihat

Menik mulai nampak. Tikah ketika

mulai bisa menyesuaikan dengan

penis yang baru diterimanya,

langsung mendapatkan rasanya.

Tegang wajahnya pun mengendor terganti dengan bersemu asyik yang

membawa pinggulnya bergerak

mengocok mengimbangi gerak

menggesek batang keluar masuk

liang senggamanya. Makin lama

makin tambah hangat rasa garukan enak itu, apalagi ditambahi Pak

Hendro dengan kedua tangannya

memilin-milin puting masing-masing

susunya, gerak geliat Tikah sudah

meningkat panas. Meliuk-liuk dia

terlihat erotis dengan dadanya kadang diangkat-angkat

membusung. Tapi yang seru adalah

goyangan bibir kemaluannya yang

berputar cepat seperti tidak sabaran

dan sesekali menanduk-nanduk ke

atas memapak tusukan batang keperkasaan Pak Hendro yang juga

mulai dipompa agak kencang. Menik sampai terasa panas dingin

dan tegang menontonnya,

terpengaruh rangsangan permainan

Tikah yang menggelora oleh

sogokan-sogokan batang

keperkasaan Pak Hendro. Gerakannya selama itu berputaran

hangat, lebih-lebih menjelang

orgasmenya. Sayang Menik tidak bisa

mengikuti mimik Tikah, karena

dengan semakin panas itu wajah

Tikah sudah hilang menyusup di dada Pak Hendro yang sudah turun

menghimpit mendekapnya erat-erat.

Hanya terakhir sempat dilihat ketika

Tikah berogasme dengan tubuhnya

yang mengejang dan mengangkat

liang kewanitaannya tinggi-tinggi seakan ingin ditekan lebih dalam lagi.

Sampai di situ apa yang ditonton

Menik, dan dia buru-buru ke luar

untuk kemudian berpura-pura

datang dari luar seolaholah tidak

mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar baca itu. Jadi boleh dibilang secara tidak

langsung, sebetulnya ayah

angkatnya yang menggiring Menik

untuk menuju kebebasan seks.

Sehingga ketika suatu ketika, Menik

menemukan teman sekolah yang cocok di hatinya dan kemudian

berlanjut dengan iseng-iseng

mempraktekkan hubungan

sanggama sampai

mengakibatkannya hamil. Ayah

angkatnya tidak bisa menyalahkan dia karena menyadari bahwa ini

salahnya sendiri yang terlalu bebas

dalam cara hidup mereka. Tapi untuk

menuntut laki-laki yang mengerjai

Menik sangat berat, karena

keduanya masih remaja sekali, jalan keluar yang dipilih adalah

menggugurkan kandungan Menik

sebelum menjadi besar serta

membatasinya bergaul bebas di

luaran lagi.




Menik nampaknya kapok dengan

akibat keisengan pertamanya itu, tapi

untuk bisa bertahan dari godaan

lelaki berikutnya ternyata ada cara

yang istimewa untuk itu. Yaitu Menik

yang sudah kenal nikmatnya hubungan seks tidak dibiarkan

menderita menahan keinginan itu,

tapi di rumah dia justru dapat

penyaluran tersendiri dari siapa lagi

kalau bukan dari ayah angkatnya

sendiri. Sejak itulah Menik mulai membuat hubungan sanggama

dengan Pak Hendro dengan maksud

agar Menik tidak mencari di luar lagi,

yang memungkinkan dia mengulang

kecelakaan yang sama. Hanya saja

tentunya dijaga agar tidak ada satu pun orang luar yang tahu rahasia

keluarga mereka. Memang, sejak lepas dari

pengalaman pahitnya itu, Menik jadi

seperti uring-uringan dan untuk

mengisi kesepiannya, Pak Hendro

mulai tertarik juga untuk

memanfaatkan Menik. Tidak heran sebab si cantik yang meningkat

semakin remaja ini kalau berpakaian

sering minim, mengundang gairah

lelaki, teristimewa bagi Pak Hendro

yang juga sedang kesepian. Tapi

sekalipun sudah akrab dengan gadis itu, Pak Hendro tidak langsung main

ajak begitu saja. Dia perlu cara halus

karena dia kuatir Menik masih trauma

dengan pengalaman pahitnya itu.

Pak Hendro mulai mengadakan

pendekatan dengan membelikan hadiah-hadiah perhiasan dan

mengobral pemberian uang untuk

meluluhkan hati Menik. Sampai di suatu siang, dia membuat

surprise dengan mendatangi kamar

Menik. "Nik, kalok Yayah kasih hadiah buat

Kamu, mau nggak..?" katanya

dengan kedua tangannya ke

belakang seperti menyembunyikan

sesuatu."Oya..? Hadiah apa Yah..?" "Mau tau..? Nih Liat dulu sebentar..!"

kata Pak Hendro sambil menarik

tangannya yang menggenggam

sebuah kotak perhiasan, membuka

tutupnya memamerkan isinya

sebentar. Namanya sifat perempuan, begitu

melihat perhiasan emas yang

berkilau-kilauan langsung bersinar

cerah wajahnya. "Buat Menik ya Yah..?" tanyanya

malu-malu. "Iya.., semua buat Kamu, abis buat

siapa lagi..?" "Waduh..! Iya Yah, Aku mau.., seneng

banget Aku Yah..!" Kontan melonjak girang Menik

karena perhiasan yang akan

diberikan kepadanya justru lebih

banyak dari yang sudah didapat

sebelumnya. Tidak salah, karena Pak

Hendro sendiri saking senangnya dapat harapan manis Menik sengaja

membelikan lebih banyak dengan

maksud untuk lebih membujuk gadis

itu. "Tapi ntar dulu, abis ini nanti temenin

Yayah tidur, sekarang ininya Yayah

masukin Yayah punya ya..?" tanya

Pak Hendro mulai minta kepastian

Menik sambil merapat dan

menjulurkan sebelah tangannya mengusap-usap selangkangan

Menik. Jelas Menik tahu maksudnya tapi dia

masih ragu-ragu. "Ngg, tapinya kalok Nik bunting lagi

gimana Yah..?" tanyanya minta

penegasan Pak Hendro. "Ooo… jelas Yayah jaga jangan sampe

begitu, nanti Yayah kasih pilnya.."

jawab Pak Hendro memberi

kepastian. Kali ini Menik mengangguk

meyakinkan ajakan Pak Hendro

karena hatinya sudah keburu terpaut

dengan kilauan emas yang bakal jadi

miliknya. Perempuan kalau hatinya

sudah merasa dekat, apalagi ditambahi dengan hadiah-hadiah

perhiasan, maka cepat saja takluk

dalam rayuan. "Kalok gitu sini, Yayah yang pakein

satu persatu dan Kamu nurut aja ya..?

Tapi sebentar.., coba kamu pake dulu

semua perhiasan yang Yayah pernah

kasih. Soalnya ini semua satu setelan,

jadi biar lengkap keliatannya." Menik mengangguk dan bergerak

mengambil perhiasan itu di

lemarinya, lalu memasangnya satu

persatu yaitu giwang, kalung, cincin

dan gelang, sementara Pak Hendro

mendekat lalu meletakkan kotak perhiasan di tempat tidur. Keempat

perhiasan itu berikut yang ada di

dalam kotak memang memiliki ciri

seragam, yaitu diberi bandul

berbentuk bola-bola berongga yang

di tengahnya diisi bola kecil lagi, jadi kalau bergerak akan menimbulkan

bunyi yang bergemerincing. Menik sendiri masih heran di mana

lagi perhiasan yang ada di kotak itu

akan dipasangi di tubuhnya, namun

begitu dia diam saja dan sesuai

permintaan Pak Hendro dia menurut

ketika sebuah perhiasan diambil untuk dipasangkan padanya. "Tau nggak Nik, Yayah beli ini karena

liat Kamu cantik, jadi kepengen

dandanin kayak putri ratu. Memang keliatan kayak main-

mainan, tapi ini emas asli lho..? Kalok

nggak cocok jangan kasih siapa-

siapa, simpen aja buat kenang-

kenangan. Ayo sini, tempat pertama

pasangnya di sini…" Menik langsung merasa geli, karena bagian pertama

yang dipasangi adalah sebuah cincin

hidung model jepit ala gadis-gadis

Arab. "Nah, sekarang untuk ini Yayah

minta tanda terima kasihnya…" Belum sempat Menik mengerti, tiba-

tiba dia sudah dipeluk lehernya dan

bibirnya didarati bibir Pak Hendro.

Agak gelagapan dia tapi cepat

disambutnya ajakan berciuman ini

dan meningkat sebentar saling melumat hangat. Ada beberapa saat

baru Pak Hendro melepas bibirnya,

Menik terlihat sempat terhanyut

sebentar dalam asyiknya bergelut

lidah bertukar ludah barusan.




Bagian kedua adalah sepasang

kalung kaki yang dipakaikan Pak

Hendro dengan meminta Menik

duduk di tempat tidur. Ini juga

menggelikan, karena merasa persis

seperti pemain kuda lumping dan upah terima kasihnya juga lucu yaitu

masing-masing betis Menik diciumi

dan dijilat-jilati setelah kalung itu

terpasang. Yang ketiga, yang paling membuat

Menik geli adalah ketika Pak Hendro

mengambil sepasang perhiasan

payudara yang pemasangannya

dijepit di puting susu. "Iddihh.., kok aneh-aneh aja si Yayah

nih..?" kontan cekikikan geli dia

sambil menekapi kedua buah

dadanya dengan tangannya. "Ya sudah, kalok masih geli ditunda

dulu. Sini Yayah ambil tanda terima

kasihnya duluan nanti pasangnya

belakangan." Begitu selesai bicara Pak Hendro

langsung memajukan kepalanya,

mulutnya mendarat mencaplok

sebelah susu Menik yang membulat

montok itu. "Sshh…" Menik mengejang tertahan

sewaktu mulut Pak Hendro

mengenyoti puncak susunya,

mengulum dan menjilati puting yang

berada di dalam mulut Pak Hendro. Kali ini geli lain. Geli yang memberi

rangsang menaikkan berahinya

untuk menuju apa yang nantinya

akan diminta Pak Hendro. Dan ini

mulai semakin terasa karena Pak

Hendro agak berkepanjangan mengisapi dan meremasi kedua bukit

dadanya bergantian, sehingga geli-

geli enak yang meresap menyulut

bara berahinya yang juga sudah

lama terpendam mulai menyala lagi.

Maklum, Pak Hendro rupanya gemas bernafsu dengan kedua susu si gadis

ramping tapi ukurannya bulat

montok menggiurkan ini. Terbukti

ketika Pak Hendro berhenti dan

menarik kepalanya, terlihat tatapan

mata Menik sudah sayu tanda sudah dipengaruhi tuntutan nafsunya. Tapi

Pak Hendro belum selesai, dia segera

memasangkan perhiasan di kedua

puting susu Menik, kali ini tidak ada

penolakan geli lagi. Selepas itu kedua buah dada segar

mulus yang sudah berhias anting-

anting itu dikecap lagi oleh mulut Pak

Hendro. Ada rangsang tersendiri

baginya dengan kedua puting yang

tercuat oleh jepitan penahan bandul, senang menjilat-jilat ujungnya

membuat Menik bergerak-gerak

kegelian, susunya berayun-ayun

menimbulkan bunyi bandul

bergemerincing. "Aahaaww… ge-yyii Paak.." Menik

merengek manja namun dia senang

dicandai mesra seperti ini. "Tambah cantik kan Menik dihiasin

gini, Yayah jadi makin gemes

ngeliatnya…" "Iya tapi lucu… Aahsssh Paak… ca-

kiitt..!" baru menjawab sudah

disambung merintih karena puting

berikut bandulnya dicaplok Pak

Hendro. Dihisap dan dijepit-jepit bandul itu

dengan bibir, menarik-narik kecil

menjadikan putingnya juga ikut

tertarik-tarik terasa perih. Tapi perih-

perih enak yang makin menambah

Menik jadi makin lebih terangsang. Sehingga ketika dari situ Pak Hendro

berlanjut dengan usahanya untuk

membuka celana pendek yang

dikenakan Menik, si gadis mandah

saja malah membantu dengan

mendoyongkan tubuhnya ke belakang, mengangkat pantatnya

membuat mudah celana berikut

celana dalamnya dilolosi lepas. Pak

Hendro meskipun dalam dirinya

sudah bergelora nafsunya ingin

segera menyetubuhi remaja cantik yang menggiurkan ini, tapi dia cukup

pengalaman untuk bisa menekan

emosinya tidak menunjukkan wajah

rakusnya. "Sekarang yang terakhir ini Yayah

pasangin kalung perutnya…"

katanya sambil membelitkan dan

mengaitkan sekali sebuah kalung

perut di pinggang Menik. Selepas itu tiba-tiba Pak Hendro

menundukkan wajahnya ke perut

Menik. Dikira akan mengecup bagian

perut itu untuk minta tanda terima

kasih, tapi rupanya lebih ke bawah

lagi. Yaitu ketika kedua tangan Pak Hendro menyusup dari bawah kedua

pahanya, membuka jepitan paha itu

sekaligus mengangkat membuatnya

mengangkang. Dia segera tahu

bahwa Pak Hendro menuju ke liang

senggamanya. Menik memang sudah terbiasa memberikan kemaluannya

dikerjai mulut Pak Hendro, cepat

ditutupnya matanya menunggu Pak

Hendro berlanjut, karena dia tahu

rasa apa yang akan didapatkannya

nanti. Saat itu, begitu mulut Pak Hendro

menempel dan langsung menyedoti

rakus bagian menganga itu, dalam

dua tiga jurus saja Menik sudah lemas

tulang-tulangnya diresapi

nikmat."Ahhnng…" mengerang dia oleh geli yang terasa menyengat

sampai ke ubun-ubun, langsung

merosot tubuhnya jadi menelentang

rata punggung ke belakang karena

serasa tangannya tidak kuat lagi

menopang. Lewat lagi beberapa jurus dia sudah meliuk-liuk tubuhnya

oleh jilatan lidah terlatih yang

mengilik kelentitnya, menusuk-

nusuk kaku membuatnya semakin

penasaran ingin segera disetubuhi. Pak Hendro berhenti untuk

membuka bajunya dan sementara itu

kedua kaki Menik yang tadi

disanggahnya diletakkan telapaknya

di tepi tempat tidur, tetap membuat

posisi Menik mengangkang lebar. "Enak kan kalok Yayah bikinin

gini..?" tanyanya menguji sambil

melepasi bajunya satu persatu. "He-ehh… tappinya jangan lama-lama

Yahh.., nggak kuat Akku…" Menik

terbata-bata menjawab jujur

kelemahannya kalau liang

kewanitaannya kena disosor mulut

lelaki.




Selesai membuat dirinya sama

bertelanjang bulat, Pak Hendro

kembali meneruskan mengerjai liang

senggama Menik dengan permainan

mulutnya, membuat si gadis betul-

betul matang terbakar oleh rangsang nafsunya. Sambil begitu Pak Hendro

sendiri dalam posisi duduk berlutut

mulai melepasi bajunya tanpa dilihat

Menik dan mulai mempersiapkan

batang kejantanannya untuk bisa

menyalurkan kerinduan nafsunya sekaligus mengisi kebutuhan yang

dituntut berahi nafsu Menik. Cukup lama Pak Hendro membakar

nafsu Menik lewat hisapan mulut di

liang senggamanya, membuat Menik

hampir hangus menunggu saat

untuk disetubuhi. Tapi sebelum

mulutnya meminta, tiba-tiba dirasakan tubuhnya ditarik diajak

bangun. Pak Hendro melingkarkan

kedua lengan Menik di lehernya,

Menik cepat mengetatkan rangkulan

mengikuti ajakan Pak Hendro yang

segera menggendong untuk memindahkannya dari posisi semula

ke tempat dimana dia akan segera

masuk ke babak sanggama, karena

dirasanya ada gerakan Pak Hendro

untuk bangkit berdiri. Memang benar, tapi sebelum sampai

ketempat yang dimaksud, Menik

seperti sudah akan mendapatkan

apa yang diingininya lebih cepat dari

perkiraannya. Tubuhnya terasa

melayang seiring dengan gerakan Pak Hendro berdiri dengan

mengangkatnya pada kedua

pahanya, tapi ketika telah tegak dan

gaya berat tubuhnya menekan lagi

ke bawah, "Hahhg…" mengejang dia

karena dirasanya kepala batang keperkasaan Pak Hendro mendesak

sampai terjepit di mulut lubang

kemaluannya. Dan makin memberat dia ke bawah

makin menyodok batang itu masuk. Tapi, "Hhoogh…" kali ini

menggerung tenggorokannya

karena yang berikutnya terasa ketat

dan perih. Tidak tahan berlanjut, dia pun

mengetatkan lagi rangkulannya

seolah-olah ingin memanjati tubuh Pak Hendro naik ke atas lagi. Celakanya Pak Hendro seperti tidak

mengerti apa yang dialami Menik,

merasa batang kejantanannya sudah

mulai terjepit masuk, dia mengira

justru Menik yang sudah mengajak

lebih dulu untuk langsung masuk di babak sanggama. Dalam posisi

seperti itu dia malah berusaha untuk

memasukkan batangnya lebih jauh

lagi. Kedua kakinya ditekuk

merendah sebentar agar Menik

terduduk menggantung di pahanya sehingga kedua perut agak

merenggang. Karena dalam posisi itu

dia bisa melepas sebelah sanggahan

tangannya untuk kemudian

membubuhi ludah di sisa batangnya

yang belum masuk, baru setelah itu dia berlanjut untuk membenamkan

batang keperkasaannya. Sekarang batang ini sudah masuk

sebagian, Pak Hendro menegakkan

tubuhnya lagi dan sambil berusaha

menekan lebih jauh dengan pintar

dia mengalihkan perhatian Menik

lewat gerakan berjalan seolah-olah mencari tempat sanggama yang lebih

enak. Memang, semakin dibenamkan

lebih dalam, terasa olehnya Menik

mencengkeram sambil merintih

kesakitan tapi Pak Hendro pura-pura

tidak mendengar. "Ssshhgh.. ssakkit Yaahh…" akhirnya

tidak tahan juga suara Menik

terdengar mengutarakan perihnya. Menik memang sudah hapal dengan

bentuk dan ukuran alat viltal ayah

angkatnya yang sering

dipermainkannya ini, tapi untuk

dimasukkan ke liang senggamanya

baru kali inilah dia merasakannya. "Iya, iya, memang agak perih kalok

dibawa jalan-jalan begini. Sebentar

lagi, Yayah mau cari tempat yang

enak buat kita." buru-buru Pak

Hendro menghibur tapi lega dia

karena dirasanya seluruh panjang batang kejantanannya sudah

terendam habis. "Mau dimana Yah..?" tanya Menik

agak heran sambil menarik

kepalanya. Sekarang bisa terlihat raut wajahnya

yang sudah pucat pasi lantaran

menahan sakit. "Kita cari tempat yang lebih enak

maennya." Dengan memondong Menik,

sementara batang kejantanannya

tetap terendam di liang

senggamanya Menik, Pak Hendro

menuju ke ruang tengah. Di situ di

depan TV terpasang sebuah permadani berukuran 2×3 meter,

kesitulah rupanya Menik dibawa.

Mengatur posisi Menik menelentang

dengan tetap menjaga kemaluan

tidak terlepas, begitu selesai Pak

Hendro mulai mengajak Menik masuk pada babak sanggama untuk

meresap nikmatnya pertemuan

kedua kemaluan ini. Sanggama ala

Pak Hendro yang unik, sebab bukan

saja pemilihan tempatnya nyentrik

tapi juga caranya terasa asing bagi Menik. Beda sekali dengan bekas

pacarnya yang dalam sanggama

mereka goyang pantat dibawa

bekerja aktif memompa penis ke luar

masuk vaginanya, tapi dengan Pak

Hendro justru tidak bergaya tradisional seperti itu. Bermain masih dalam keadaan saling

menempel berhadapan dengan

batang kemaluan tetap terendam

dalam, tanpa ada gerakan

menggesek keluar masuk, Menik

dibawa berguling-guling di seluas permadani itu seperti seorang anak

kecil sedang diajak bergelut canda

oleh ayahnya. Tetapi lebih cocok

disebut seperti sepasang penari balet

yang sedang beradegan lantai dalam

gaya erotis. Sebab sementara bergulingan, kadang Menik di atas

kadang pula di bawah, Pak Hendro

mengiringi dengan kerja mulutnya

serta tangan yang tidak terputus

melanda sekujur tubuhnya dari mulai

atas kepala hingga ke ujung kakinya.




Di situ kadang dikecup mesra, dijilati

atau digigiti gemas, juga kadang

diusap, dipijat, diremas di bagian

manapun dari tubuh Menik dapat

dicapai mulut atau tangannya. Menik

tidak ubahnya diperlakukan seperti boneka permainannya. Boneka

cantik berhias yang semakin

bergemerincing suara bandulnya

semakin membuat hatinya senang

dan asik menggelutinya.Tapi asyik

bukan hanya buat Pak Hendro, Menik yang semula masih merasa perih dan

masih pasif mulai mendapatkan rasa

asyik yang sama, malah lebih lagi.

Gaya baru yang diterimanya ini terasa

begitu mesra menghilangkan perih

yang diderita. Dan ujung batang yang tadinya terasa begitu ketat serta

menyodok begitu jauh di dalam

perutnya sekarang justru dirasakan

enak luar biasa mengorek-ngorek

tuntutan berahinya jadi cepat

terluapkan, melayang-layang dibuai kenikmatan yang datang melanda

susul menyusul. "Hsshngg addduuuh Yyahh… sshngh

dduhh.. hmm aaahhghrh..!" begitu

dalam akibatnya sampai-sampai

tidak tertahankan lagi, masih

ditengah asyiknya digeluti Pak

Hendro, Menik sudah mengerang membuka orgasmenya satu kali

sebelum berikutnya menyusul lagi

secara bersamaan dengan Pak

Hendro. Ini terasa luar biasa, sebab kalau

biasanya dia merasa seperti

dipaksakan keluarnya oleh gesekan-

gesekan cepat penis bersama pacar

lawan mainnya, yang ini lebih

melegakan menyalurkannya lewat geliat-geliat erotis tubuhnya yang

dilipat-lipat oleh Pak Hendro. "Aaahnng.. ssshh-dduuh Yahh… Ak-

kku klu-ar laggi sshh… hngmmm

shg…" disitu baru selesai yang satu

sudah menyusul lagi rangsangan

gairah untuk menikmati yang

berikutnya. Memang akhir dari permainan sama-

sama meletihkan, tapi kalau saja Pak

Hendro masih bisa bertahan lebih

lama lagi rasa-rasanya Menik akan

sambung menyambung orgasme

yang bisa dicapainya. Betul-betul suatu permainan yang unik

mengesankan, karena dengan hanya

menanam batang dalam-dalam saja

sudah membuat Menik terpuaskan

secara luar biasa. Begitulah, permainan serasa mimpi

indah yang dialami Menik dalam

hubungan pertama ini sudah

langsung membuat Menik ketagihan

kepada Pak Hendro. "Gimana, puas nggak maen gini sama

Yayah..?" tanya Pak Hendro menguji

apa yang barusan dialami Menik. "Itu sih bukan puas lagi, tapi mabok

namanya.. Gimana nggak, sekali

tancep tapi Aku sampe tiga kali

ngeluarinnya… Yayah pinter aja

ngerjain Aku…" jawab Menik

mengakui apa yang didapatnya sekaligus menyatakan pujian

kagumnya kepada kehebatan Pak

Hendro, "Tapinya lemes banget Aku Pak.." lanjutnya sambil

menyusupkan kepalanya manja-

manja sayang di dada Pak Hendro. Sejak itu Menik memang tidak pernah

sungkan-sungkan meminta kalau

sedang ingin digauli ayah angkatnya.

Seperti misalnya tengah malam itu

Pak Hendro terbangun agak kaget

karena dia merasakan seseorang naik berbaring di sebelahnya. Segera

dia mengenali bahwa Menik yang

barusan naik berbaring

memunggungi di sebelahnya. Pak

Hendro tersenyum mengerti bahwa Menik yang sudah seminggu tidak

digauli karena haid, sekarang

rupanya sudah selesai dan tentu

sudah kepingin lagi disetubuhinya.

Tanpa bertanya dia pun

mengembangkan selimutnya menutupi Menik dan berbalik

merapati memeluk si gadis dari

belakang. Betul juga, ketika sebelah tangannya

disusupi sekaligus menyingkap gaun

tidurnya untuk meremasi susunya,

terasa olehnya bahwa Menik makin

menempelkan pantatnya yang tidak

mengenakan celana dalam itu ke jendulan batang kemaluannya. Pak

Hendro makin menggoda, dia

memindahkan tangannya merabai

jendulan kemaluan Menik dari arah

belakang pantatnya. Sebentar

diusap-usapnya liang senggama yang terjepit itu, Menik pura-pura

diam saja. Begitu juga waktu Pak

Hendro mulai mencolokkan satu

jarinya ke dalam jepitan itu, masih

belum ada reaksi Menik. Tapi waktu

jari itu mulai digesek sambil mengorek-ngorek ada beberapa

lama terasa Menik mulai tidak tahan

dan mulai menggelinjang sambil

merintih. "Sssh udah Yaah ja-ngann pake ta-

ngann…, nggak en-nakk…" "Pake apa dong enaknya..?" bisik

Pak Hendro menggoda. "Macupinn kontol Yayahh ajaa…"

jawab Menik dengan logat manja

kekanak-kanakan. Pak Hendro segera berhenti dan

Menik memang tidak perlu meminta

dua kali karena jelas ayah angkatnya

sudah tahu keinginannya. Terbukti

Pak Hendro sudah memasangkan

guling di depannya yang langsung dipeluk kedua kaki Menik sehingga

posisi vaginanya lebih menungging,

ini dimaksudkan agar lebih mudah

dimasuki pada posisi itu. Dan sebentar kemudian

dirasakannya Pak Hendro yang

sudah melorotkan celananya

membebaskan kemaluannya mulai

menempelkan batangnya di depan

liang kewanitaannya Menik. Baru saja bertemu kedua kemaluan telanjang

itu, Menik sudah langsung

menjulurkan tangannya untuk

melakukan sendiri menggosok-

gosokkan kepala kejantanan Pak

Hendro di mulut lubang senggamanya. Dari caranya yang

tidak sabaran, Pak Hendro semakin

yakin bahwa Menik betulbetul

sedang kepingin sekali. Dia

membiarkan dulu menunggu sampai

batangnya mengencang baru kemudian dia mengambil alih lagi

untuk memasukkan batangnya itu.




Dibasahi dulu dengan ludahnya

seputar kepala batangnya, setelah itu

mulai disesapkan terjepit di mulut

lubang kewanitaan Menik. Begitu

terasa mulai masuk, segera

disambung dengan disogok pelan- pelan sambil menekan semakin lama

semakin dalam. Sampai di batas yang

bisa dicapai, barulah dia menunda

dan kembali merapat mendekap

Menik. Menyusupkan lagi tangannya

meremasi kedua susu sambil diiringi mengecupi leher si gadis yang

langsung berbalik menoleh dengan

mimik wajah terlihat senang. "Ahss… enak Yaahh..!" komentar

pertama Menik. "Udah kepengen sekali ya Nduk..?"

tanya Pak Hendro tersenyum manis. "He-ehh udah ampir seminggu

nggak gini sama Yayah, Nik nggak

bisa tidur Yah..!" "Seneng ya memeknya dimasukin

punya Yayah kayak gini..?" "Ceneng Yah…, enyak diogok-ogok

ontol 'ede Yayah.." jawabnya kembali

dengan logat manja kekanak-

kanakannya. "Ya udah, sekarang bobo deh sambil

Yayah ogok-ogok supaya tambah

pules bobonya…" Menik membalikkan lagi kepalanya

membelakangi Pak Hendro, seolah-

olah mengikuti anjuran ayah

angkatnya yang akan membuatnya

tidur enak dengan menyogok-

nyogokkan batang kejantanan di liang senggamanya, tapi ketika

terasa batang itu mulai dimainkan

keluar masuk pelan, dia ternyata

terbawa memainkan juga pinggulnya

mengocok pelan seirama gerakan

Pak Hendro. Irama permainan ini tidak meningkat hangat seperti

biasanya, karena masing-masing

seperti ingin bermain berlambat-

lambat dengan membatasi gerakan-

gerakan mereka, tapi nikmat yang

dirasa tidak kalah enaknya dibanding biasanya. Malah

permainan kalem ini terasa lebih

mengasyikkan dengan

mengkonsentrasikan pada gelut

kemaluan yang lebih banyak ditekan

dan diputar dalam-dalam diikuti penyaluran gemas-gemas nafsu

pada remasan-remasan yang

mencengkeram ketat. Begitu juga

seperti ingin mencegah suaranya

terlepas kendali, Menik menutupi

wajahnya dengan bantal dan menggigitnya erat-erat. Pak Hendro

memainkan terus batang

keperkasaannya membuatnya bisa

menyusul Menik tepat pada

waktunya. Karena ketika terasa

Menik mulai berorgasme, Pak Hendro pun tiba bersamaan di saat

ejakulasinya. Permainan selesai dan bersambung

acara tidur bagi Menik, tapi Pak

Hendro masih ingin merapihkan diri

dulu. Dibantu Menik sendiri yang

mengangkangkan kedua kakinya

lebar-lebar, Pak Hendro segera menyeka bersih bekas-bekas cairan

di lubang kemaluan Menik. Ini

memang satu kebiasaan si manja

yang kalau selesai sanggama dan

tertumpah oleh cairan mani dia selalu

malas untuk mencuci, sehingga harus Pak Hendro yang

membantunya. Begitu ketika dirasa

sudah bersih, barulah Pak Hendro

menyusul tidur memeluki Menik

Monday, 28 January 2013

Ritual Kenikmatan sex Sebelum Pernikahan



Dalam usianya yang ke-duapuluhsatu tahun, muda dan keras kepala, saat menceritakan padaku kalau dia akan menikah, aku terdiam merasa kecewa dan terguncang, tapi aku menyembunyikannya dengan mendoakannya keberuntungan yang terbaik dan sebuah kehidupan yang selalu bahagia. Suara yang lain tidak aku kenal dan kutebak kalau itu adalah suara para pengiring pengantin, gugup dalam kebahagiaan mereka untuk yang lain, barangkali menantikan hari mereka sendiri.

Kurapikan dasi kupu-kupuku dengan bercermin di gang, aku melihat bayangan diriku dalam cermin, mengerutkan dahi merasa tak nyaman memakai pakaian resmi yang membatasi ini. Kuperhatikan diriku, rambutku masih terlihat hitam dan bersyukur karena kulihat bahwa sama sekali belum ada uban di usia empat puluh satu tahun ini. Wajahku terlihat keras karena tahun-tahun travellingku dan sering keluar masuk di lingkungan yang keras yang notabene penuh asap dan alkohol. Dan ketika aku mempelajari mata lelaki dalam cermin ini, aku mendapatkan gambaran akan kehidupan yang menghantarku hingga di sini. Aku jumpa Wati istriku saat kami berdua masih terlalu muda untuk membedakan mana yang baik, dan dia meyakinkanku si pemain gitar ini bahwa kami berdua akan bisa menaklukkan kerasnya dunia.

Dia adalah lulusan sebuah perguruan tinggi dengan pekerjaan tetap dan aku adalah seorang lelaki yang pergi bertualang dari kota satu ke kota lainnya berkeliling negeri ini. Anak-anak gadis kami lahir di awal perkawinan, yang membuat kami masih bertahan bersama sekitar lima tahun lamanya hingga akhirnya kami berdua menyadari bahwa hubungan ini sudah tak dapat dipertahankan lagi. Dia bertemu dengan seorang pria lain yang mempunyai sebuah kehidupan yang stabil, yang menurutnya akan lebih baik untuk kehidupan kedua putri kami.

Perceraian datang dan terjadi seperti perkiraan kami dan aku masih menetap di dekat mereka selama beberapa tahun sampai memperoleh sebuah lompatan besar sebagai pemusik studio di ibu kota. Sejak saat itu, aku mencoba yang terbaik agar tetap bisa berhubungan melalui telepon, lewat kiriman foto, dan tour keliling yang sekali-kali singgah di dekat situ. Dan saat aku menatap dalam kaca, aku melihat sebuah penyesalan yang terpancar ke luar.

"Ayah, apa yang Ayah lakukan?"
Aku kembali pada kesadaranku oleh suara putriku, Erna. Dia terlihat cantik bahkan di saat memakai baju pengiring pengantinnya yang menggelikan itu. Kulitnya yang kuning langsat dan rambutnya yang hitam pekat terlihat kontras dibandingkan dengan warna metalik dari pakaian itu. Dia tersenyum dalam kecantikannya yang lugu dan menatapku dengan bingung.
"Hanya mengenang masa lalu," kataku.
"Saat seperti ini membuat kamu berpikir kalau kamu telah membuat keputusan yang salah. Bagaimana itu mempengaruhi hidup orang lain." Dia menghiburku dengan pelukan dan mengusap bahu dan punggung lenganku.
"Ayah lakukan apa yang harus Ayah lakukan," dia berkata.
"Aku tidak memusuhi Ayah. Aku akan melakukan hal yang sama bila berada dalam posisi tersebut. Aku akan lebih memilih pengalaman hidup dari pada mengambil keputusan seperti yang diambil Ibu."
Pijatannya yang lembut menenangkan keteganganku, dan saat aku telah menjadi lebih santai aku sadari betapa aku menikmati dadanya yang menekan tubuhku. Dengan tinggiku yang sekitar dua belas centimeter lebih tinggi daripada Erna, aku menggerakkan tanganku dari punggungnya yang kecil naik ke bahunya yang telanjang dan menekannya agar merapat padaku. Dia membalas memelukku erat dan tersenyum dengan tidak berdosa. Kutundukkan kepalaku, dan memberinya sebuah ciuman ringan di atas dahinya, tetapi dia malah berjinjit pada jari kakinya dan dengan cepat menemukan bibirku.

"O-o.., sebaiknya Ibu tidak melihat. Dia mungkin akan cemburu. Atau Endang, mungkin." dia tertawa genit. Aku tersenyum pada kelakarnya dan ketika dia berjalan sepanjang aula, aku tidak bisa mempercayai reaksinya pada perlakuanku yang dengan pelan memukul pantatnya.
"Mungkin nanti, Ayah bisa mencobanya saat aku tidak memakai pakaian gembung ini."

Gaunnya turun hingga ke bawah lututnya dan itu terlihat indah, kaki-kaki itu laksana sebuah magnet yang membuat mataku lengket selalu menatapnya saat menggerakkan keindahan ini, saat wanita muda itu melenggang pergi. Aku membayangkan pantat yang manis dan kencang yang dia miliki. Aku juga membayangkan seperti apa rasanya pantat itu di dalam tanganku ketika dia menungganginya naik turun pada penisku, meneriakkan dengan histeris, "Setubuhi aku, Ayah. Setubuhi putri kecilmu. Masukkan penismu dalam vagina panas putrimu." Saat kepergok sedang memandangi dan mengkhayalkannya, aku melihat ke arah putriku yang menengok ke belakang. Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat dia berbelok di ujung gang itu.

Kembali ke kenyataan, aku akan mengetuk pada pintu di mana pengantin wanita sedang bersiap-siap ketika mantan istriku Wati membuka pintu itu dan keluar.
"Rudi, kita harus bicara." dia berkata dalam sebuah nada yang memperingatkan. Aku bergeser dari pintu untuk memberinya ruang.
"Endang ingin agar Anton yang berjalan di sepanjang karpet itu. Sekarang, kamu benar-benar tidak punya alasan untuk mengganggunya."
"Aku tidak peduli," aku menjawab deklarasinya. Aku merasa terluka, tapi rasa bersalahku akan kehidupanku berkata bahwa ini adalah konsekwensi dari keputusan hidupku yang lain.
"Aku harap aku bisa bicara dengannya sebelum upacara," kulirik arlojiku. Masih ada waktu satu jam.
"Aku ingin meluruskan beberapa hal. Ingin mendoakan keberuntungannya. Hal-hal seperti itulah."
"Itu bukan ide yang baik," kata Wati.
"Dia sedang bingung dengan siapa dia akan berjalan di karpet itu nanti. Dia terlalu emosional dan gelisah sekarang. Aku bilang padanya bahwa dia sudah membuat keputusan yang benar dan kamu akan memahami itu."

Aku tidak ingin membuat masalah, dan aku bisa lihat aku tidak akan berusaha melewati sang penjaga pintu, maka kuanggukkan kepalaku dan berbalik. Aku berjalan ke dalam ruangan di mana sang pendeta sedang bersiap-siap dan berbicara dengannya untuk beberapa menit sebelum dia pergi untuk meyakinkan para pelayan altar agar tahu apa yang harus mereka lakukan. Dia berkata bahwa aku boleh tetap berada di sini jika aku ingin, kuambil tawarannya dan duduk pada sofa kulitnya menghadap jendela dan melihat orang-orang yang memakai setelan jas resmi dan gaun pesta ke dalam gereja. Pintu terbuka dan menutup di belakangku. Mengira kalau yang masuk adalah sang pendeta, aku berdiri dan bertanya..

"Apa pekerjaan mereka beres?"
"Beres?" tanya Erna.
"Ah. Aku pikir kamu si pendeta." dia tertawa.
Erna menggantikan tempatku di sofa ketika aku berjalan di sekitar jendela dengan membayangkan hubungan seks sedarah kami. Kakinya bertumpu pada meja kopi di depan sofa menekuk lututnya saat dia mengayunkannya maju mundur, membuka dan menutup. Gaunnya yang mulai tersingkap ke atas pahanya yang memperlihatkan lebih banyak bagian dari paha dalamnya. Gaunnya tersingkap hingga di atas lututnya, suaranya menggesek maju mundur menyelimuti detak jantungku yang terus meningkat. Aku berjalan semakin dekat untuk senyuman lezat yang ingin kucicipi itu tetapi sadar kalau aku tidak bisa melakukannya.

Putriku yang berumur sembilan belas tahun itu sedang menggodaku. Aku sering melihat 'groupies' untuk mengetahui tentang apa arti dari godaan, tetapi groupies lebih blak-blakan. Semua orang tahu apa yang mereka inginkan. Ada sesuatu yang disembunyikan di sini, kami berdua tahu apa yang akan terjadi. Aku yakin kami berdua bukanlah orang 'suci'. Tapi godaan ini tak akan berakibat apa pun. Tidak ada apa pun yang bisa. Itu salah. Kami tidak bisa membiarkan sesuatu itu terjadi. Sesuatu yang bersifat seksual.

Dia membuka kakinya lebih lebar, seperti sebuah undangan agar datang menikmatinya. Gaunnya bergerak lebih tinggi dan aku menangkap sebuah pandangan sekilas dari sabuk stocking yang membungkus di sekitar paha indahnya. Erna menurunkan kakinya ke lantai dan aku takut kalau aku akan menerkamnya, aku telah berbuat keterlaluan dengan nafsu pada keindahan pahanya. Paha yang aku inginkan untuk melingkari tubuhku, yang kutelusuri dengan tanganku. Tetapi dia masih tersenyum saat aku memandangnya, memainkan pikiranku. Dia ingin agar aku duduk pada meja di depannya dan aku melakukannya, tidak ingin mengecewakan wanita muda ini.

"Tetaplah di sini," dia berkata.

Aku mematuhi dan menutup wajahku dengan tangan, berusaha meredakan pikiranku yang penuh gairah. Aku ingin kehangatan dari seorang wanita, dan aku ingin merasakan kehangatan itu pada penisku. Aku ingin dadanya di tanganku, pahanya bergesekan dengan milikku. Aku menginginkan perhatian dan cintanya. Itu salah, atau kira-kira itulah yang mereka katakan, untuk bernafsu pada wanita yang aku inginkan. Tetapi melihatnya mengayunkan paha, menggesekkan ke depan dan ke belakang, membayangkan itu adalah vaginanya yang menggesek, menelan penisku, merintih dengan penuh gairah ketika aku memompa keluar masuk tubuhnya, aku telah sampai di garis tepi itu.

Cerita Dewasa : Tanganku menutupi wajahku, pikiranku menjadi liar. Aku mendengar suara pintu di seberang ruangan ditutup di belakangku yang diikuti oleh suara mengunci pintu itu. Sepertinya ada dua orang di sana. Aku mengintip dari tanganku dan melihat seorang pengantin wanita yang paling cantik dalam hidupku. Tingginya yang sama dengan adiknya, dia mempunyai sebuah wajah yang sama cantiknya dan bentuk tubuh sempurna yang tak berbeda. Jika rambutnya tidak lebih panjang, pasti akan sulit untuk membedakan mereka. Aku berdiri, penisku masih keras tapi tersembunyi oleh pakaian resmi yang kupakai. Malu dengan pemikiranku akan Erna, aku mendekati Endang yang mengenakan gaun pengantin anggun, menggairahkan.

"Sayang, kamu cantik sekali," kataku.

Paha Endang yang terlihat menyembul dari balik gaun putihnya hampir membuatku meledak di dalam celana dalamku. Jasku sedang dibuka oleh seseorang di belakangku. Aku menoleh dan menemukan Erna. Keinginan yang penuh gairah kembali lagi. Endang tersenyum pada Erna dan melihat mata Endang, aku tahu putri bungsuku pasti tersenyum juga. Aku mulai untuk mencoba katakan sesuatu, tapi Endang memotong..

"Ayah," dia berkata.
"Ayah yang manis, lembut..", katanya lagi.

Dia bergerak semakin dekat kepadaku seiring kurasa tangan Erna mengelus lenganku kemudian menyeberang ke dadaku. Aku pikir aku sedang bermimpi dan aku ingin terbangun agar aku bisa segera melakukan masturbasi dan mengeluarkan bayangan ini dari pikiranku. Tapi ini bukan sebuah mimpi.

"Aku tahu Ayah merasa bahwa sepertinya Ayah sudah menelantarkan kami. Tapi, kami tahu bahwa Ayah sudah mencoba yang terbaik. Kami tahu bahwa Ibu saja yang sulit menerimanya."
"Kami mencintai Ayah. Waktu yang pernah kita lewati bersama sangat berharga." Erna menambahkan ketika dia tetap membelai dadaku, kemudian dia dengan lembutnya mencium leherku. Nafasnya yang halus menggetarkan tubuhku.
"Sebenarnya, kami sangat menginginkan Ayah," kata Endang saat dia telah dengan sepenuhnya merapat.
"Ini adalah khayalanku," katanya sebelum dengan singkat mencicipi bibirku.

Tanganku bergerak ke bawah gaun pengantinnya, meluncur di atas kedua pahanya. Dagingnya yang halus tidak mengenakan stocking. Saat tangan kiriku mencapai kelembabannya, rambut kemaluannya, aku tahu dia ingin disetubuhi. Penisku semakin keras saat lidah bernafsu Endang menjadi lebih agresif dan mengatakan padaku bahwa penis Ayahnya inilah yang dia inginkan di dalam vaginanya.

"Katakan pada Ayah betapa kamu sangat menginginkan dia, Endang."

Erna sudah pindah dari belakangku ke belakang Endang. Saat aku sedang mengelus paha Endang dengan satu tangan dan menggoda bibir vaginanya dengan jari dari tangan yang lainnya, Erna sedang mengelus dada kakaknya dan mencium lehernya dan memegangi telinganya. Kemudian aku merasa tangan Erna bergabung dengan tanganku dalam merasakan vagina kakaknya yang basah.

"Ohh, ya, Ayah," erang Endang lirih. Celana dalamku terlepas dan putriku mendapatkan penisku di dalam genggaman tangannya. Dia menyeka beberapa precum dengan jarinya dan menghisapnya ke dalam mulutnya sebelum menarikku kembali dalam sebuah ciuman.
"Aku ingin Ayah menyetubuhiku, Ayah. Setubuhi gadis kecilmu yang nakal ini."

Vagina Endang yang panas adalah hal terbaik yang pernah dirasakan jariku, dan saat dia menjauh, mereka dibuatnya sedih. Tetapi dia lalu duduk di atas sofa, lutut ditekuk dan kaki mengangkang terbuka, seperti yang dilakukan Erna sebelumnya. Dia menyingkap gaunnya hingga dapat kulihat gundukan dagingnya yang menggairahkan di bawah gaun pengantinnya. Erna memanfaatkan kesempatan yang ditinggalkan kakaknya untuk berlutut dan mengambil penis kerasku ke dalam mulut mudanya. Aku membungkukkan kepalaku dan membelai rambutnya saat dia menghisap batang tebalku. Melalui mataku yang hampir terpejam, aku bisa melihat Endang yang memainkan kelentitnya, menjilat sari buahnya.

Endang tidak bisa membendungnya lagi, dan tak pasti berapa lama hisapan adiknya yang sempurna ini sanggup kuhadapi, sebab dia perintahkan padaku agar datang padanya.

"Kemarilah dan setubuhi aku, Ayah. Aku ingin penis besar Ayah di dalam vagina panasku sekarang. Aku ingin kita keluar bersama."

Erna mendengar rintihan kakaknya dan melepaskanku dari genggamannya, mendekat ke Endang. Kedua putriku mulai saling mencium, Erna memberi kakak kandungnya sebuah rasa dari apa yang akan segera dialami vaginanya. Aku bergerak di antara paha Endang, meluncurkan tanganku pada daging yang paling berharga yang kutahu, putriku.

"Ohh, Sayang. Kamu sangat indah. Ayah tidak bisa mencegahnya. Penisku terasa sakit karena kamu." Aku mengagumi kecantikan dan keindahannya dan mendekatkan wajahku pada vagina basahnya. Sari buahnya sangat merangsang dan lidahku melingkari bibirnya, mengambil cintanya di dalamnya.
"Ohh, Ayah," desahnya saat aku menyisipkan lidahku sedalam-dalamnya, kemudian menarik keluar dan mencicipi daging yang melingkupi kelentitnya.
"Aku sangat ingin Ayah menyetubuhiku."

Penisku tidak bisa kutahan lagi. Aku harus merasakan kehangatan putriku pada penisku. Aku bangkit dengan perasaan yang sangat bersemangat mendapatkan seorang wanita muda yang dengan sepenuhnya mengharapkanmu dalam hidupnya dan melihat Erna yang sedang menghisap puting susu kakaknya. Kupegang penisku mengarah ke daging basah Endang yang membuka, merasakan darahku terpompa di bawah jariku. Pelan-pelan kuselipkan dalam sebuah dorongan pendek, kehangatannya terasa berlimpah saat aku mempertimbangkan konsekwensi tindakan terlarang ini. Aku menginginkan wanita muda ini, putri kandungku sendiri.

Endang melingkarkan kakinya di punggungku, seolah-olah merasakan keraguanku, dan menarikku dengan penuh ke dalamnya.

"Kumohon, setubuhi aku. Ohh Tuhan, penis besar Ayah terasa hebat. Keluarlah di dalamku, Ayah. Aku ingin merasakan sperma Ayah menetes ke kakiku saat aku katakan janjiku di depan pendeta."
"Ohh, sayang. Vaginamu sangat panas dan ketat di penis besar Ayah. Ini adalah vagina terbaik yang pernah kurasakan. Ayah ingin menyetubuhi kedua putriku melebihi apa pun di dunia ini." aku memompanya dengan penuh cinta, tetapi perasaan ini tumbuh terlalu liar untuk dikendalikan.
"Katakan kamu ingin Ayahmu bagaimana, Sayang."
"Ohh Tuhan. Aku keluar Ayah. Keluarlah bersamaku." pinggulnya menusukkan vaginanya lebih ke dalam penisku.
"Setubuhi putrimu lebih keras," Erna memerintahkan.

Aku memandang dari nafsu kusamku untuk melihat kedua anak gadisku saling melilitkan lidahnya dalam mulut mereka satu sama lain.

"Vaginamu sangat nikmat di penis kerasku, sayang. Ayah akan keluar. Aku mencintaimu sayang."

Lalu, kedua tubuh kami meledak dalam sebuah orgasme yang tak terkendalikan. Gelombang demi gelombang spermaku kupompa ke dalam putriku, vaginanya memijat keluar tiap-tiap tetesan akhir, kakinya menekan pantatku merapat kepadanya. Kemudian penisku mengecil di dalam vagina Endang, dan aku memberinya sebuah ciuman penuh kasih.

"Aku mencintaimu, Endang. Akan kulakukan apa pun untukmu. Untuk kalian berdua."
"Itu bagus," kata Erna saat dia melangkah keluar dari pakaian pengiring pengantinnya, bra hitamnya dan sepatu bertumit tinggi yang dia kenakan, sangat cocok padanya.
"Sebab aku mulai cemburu melihat penis besar Ayah di dalam vagina Kakak." dia menggantikan posisiku di antara kaki kakaknya ketika aku bergeser ke samping.

Putri-putriku yang nakal mulai saling berciuman dan aku memindahkan meja menjauh agar aku dapat berdiri di belakang Erna. Endang melepaskan bra adiknya yang memberi efek langsung pada penisku yang mengeras, tetapi itu masih belum sepenuhnya siap benar. Tanganku mengelus pinggul Erna ketika aku menggosokkan penisku pada pantat dan sela pahanya. Aku merasa dia akan bangkit, maka kuberi ruang padanya saat aku menyadari bahwa dia sedang turun pada kakaknya.

Mata Endang terpejam, tapi aku bisa melihat kesenangan yang murni pada wajahnya ketika adiknya mencicipi campuran dari orgasme adik dan ayahnya. Erna telah siap untuk disetubuhi. Dia membentangkan kakinya terpisah dan dengan sepatunya yang bertumit tinggi dan kepalanya turun pada kakaknya, pantatnya bergoyang dengan sempurna. Aku harus mencicipinya dulu. Maka aku turun ke atas lantai di antara kakinya, dan mengangkat kepalaku ke atas, mulai menjilati vagina basahnya. Dia membantuku dengan satu jarinya yang menggosok kelentitnya ketika aku menjilat ke dalam bibir vaginanya.

Rintihannya mengirimku ke garis tepi itu. Kami semua tidak mampu membendungnya lagi. Aku bangkit di belakangnya dengan tanganku memegangi pinggulnya, masih mengayun dan kakinya lebih jauh terpentang, lidahnya masih memberi kenikmatan pada kakaknya lebih lagi. Aku menatap pahanya, ditopang oleh tumitnya, dan teringat dia saat berjalan di sepanjang aula itu. Dengan memejamkan mata, aku menarik kami bersama, penis gemukku menekan jauh ke dalam vaginanya yang hangat dan basah.
"Ohh, Erna." aku mengerang dalam masing-masing ayunanku yang lembut.
"Sayang, kamu sangat seksi." tanganku meremas pantat dan pinggulnya yang bergerak seiring ayunanku.
"Melihatmu mengoral kakakmu membuat Ayah akan keluar lagi."
"Ayah, penis besar Ayah terasa sangat nikmat bergerak keluar masuk. Pelanlah agar kita dapat keluar bersama."

Aku memenuhi harapannya. Bergerak dengan penuh rasa nikmat dalam gerakan lambat saat aku ingin menusuknya yang terakhir kalinya dengan dalam, aku menahan diriku. Bola zakarku mengencang untuk pelepasan, penisku tumbuh lebih gemuk, aku harus melepaskan tali orgasme ini. Pemandangan dari kedua putriku bersama dengan Ayah mereka, perasaan keduanya yang membungkusku, mencintaiku, membuatku berakhir, tak bisa lagi kukendalikan. Perutku mulai mengencang.

"Sayang, Ayah keluar." aku merasa spermaku bergerak dari dalam tubuhku bersiap untuk meledak dengan tiap tusukannya.
"Keluarlah di dalamku, Ayah. Campurkan dengan milikku." Aku sudah menunggu terlalu lama. Kontraksi putriku di sekitar batangku meledakkan sperma dari penisku.
"Brengsek," aku mengumpat dalam hati saat aku tetap memompa anak gadisku, mataku terpejam tak menghiraukan dunia ini.
Sebelum sperma terakhirku habis, aku merasa seseorang memegang lengan tanganku. Itu adalah Endang. Dia berlutut menuju ke pantat adiknya dan menarikku ke luar. Erna berpaling dengan kelelahan yang terlukis pada wajahnya dan tersenyum saat kakaknya berkata..

"Aku ingin mencium suamiku dengan rasa dari dua orang yang paling kucintai di dalam mulutku. Adik dan Ayahku tersayang."


Labels