Showing posts with label maria ozawa miyabi. Show all posts
Showing posts with label maria ozawa miyabi. Show all posts

Friday, 22 February 2013

Foto Belahan Pantat Kim Kardashian Terlihat Saat Memakai Rok Transparant

Kim Kardashian
Foto Belahan Pantat Kim Kardashian ini memang tak sengaja mungkin, atau bisa juga itu merupakan corak warna rok yang ia kenakan. fotonya cuma satu gan, nikmati saja.

Sunday, 10 February 2013

Liga Indonesia Adalah Liga Super Indonesia, Bacalah Tentang Kebobrokan PSSI Johar Arifin

BILA pada zaman prakemerdekaan, politik etis atau politik balas budi diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda maka pada zaman kemerdekaan, bahkan pada era reformasi, politik etis itu coba diterapkan oleh pengurus baru Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Bila pada zaman kolonial Belanda ada pola hubungan atau relasi patron dan klien, antara pejabat pemerintah kolonial dan para priayi maka pada era reformasi sekarang ini relasi patron-klien itu coba diterapkan pengurus baru PSSI. Betapa tidak?

Kalau tidak menerapkan politik etis dan membangun pola hubungan patron-klien, mengapa pada awal debutnya, pengurus baru PSSI di bawah komandan Prof Djohar Arifin Husin, justru menyusun kepengurusan lengkap PSSI dengan komposisi yang dominan diisi orang-orang yang dianggap berjasa mengantarkannya ke kursi PSSI-1, termasuk orang-orang titipan The Godfather? Apakah pengurus baru saat ini menganut semangat demokrasi ala Barat, yakni the winner takes, all, pemenang mengambil seluruhnya?

Kalau tidak menerapkan politik etis dan membangun pola hubungan patron-klien, mengapa kebijakan-kebijakan pengurus baru PSSI seakan hanya menguntungkan kelompok tertentu? Tak peduli pengurus baru PSSI itu harus menabrak aturan, bahkan aturan yang dihasilkan kongres yang merupakan institusi tertinggi PSSI. Yang penting bagi mereka, barangkali bisa mengimplementasikan politik etis dan pola hubungan patron-klien itu. Tujuannya satu: balas jasa!
Politik balas budi dan pola hubungan patron-klien ini kita kemukakan demi menghindari asumsi yang lebih buruk lagi, yakni pengurus baru PSSI hanya sekadar menjadi boneka The Godfather,  seperti diasumsikan sejumlah pihak.

Padahal ekspektasi publik sepak bola Indonesia terhadap pengurus baru PSSI, begitu terpilih dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Solo, pada 9 Juli 2011, begitu tinggi. Publik berharap pengurus baru bisa menarik garis tegas, bahkan menjadi antitesis, dari pengurus lama rezim Nurdin Halid. Tapi apa lacur? Ternyata rezim baru dengan rezim lama yang digantikannya setali tiga uang: banyak melakukan politisasi terhadap organisasi. Bagi rezim baru, politik etis lebih ditonjolkan.

Menabrak Aturan

Padahal, tantangan yang dihadapi PSSI sangat berat. September lalu misalnya, peringkat sepak bola Indonesia di FIFA melorot 8 tingkat dari posisi Agustus 2011. Bila bulan sebelumnya berada di peringkat ke-131, kini posisinya di peringkat ke-139. Bandingkan dengan Singapura yang berada di peringkat ke-136, Vietnam di peringkat ke-129, dan Thailand di peringkat ke-117. Iran dan Bahrain yang baru saja mengalahkan Timnas Indonesia berada di peringkat ke-50 dan ke-104.
Kalau tidak menerapkan politik etis dan membangun pola hubungan patron-klien, mengapa pengurus baru ‘’membongkar’’ sistem kompetisi yang sudah mapan, yakni Kompetisi Liga Indonesia (KLI)? Pembongkaran dilakukan dengan menabrak aturan organisasi dan Statuta PSSI. Bila rezim lama kita tentang dan caci-maki karena suka merekayasa statuta, lalu apa bedanya dengan perilaku rezim saat ini?

Seperti diberitakan, pengurus baru PSSI ngotot dengan tetap memaksakan putaran Liga Super Indonesia (LSI), strata tertinggi dari KLI, musim 2011-2012 diikuti oleh 24 klub. Keputusan Komite Kompetisi PSSI ini konon tak bisa diganggu gugat. Padahal, klub-klub peserta LSI banyak yang keberatan. Ke-24 klub itu adalah 14 klub peserta LSI musim kemarin, 4 klub promosi, dan 6 klub tambahan.

Enam klub tambahan ini adalah peserta Kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI), yakni PSM Makassar, Persema Malang, dan Persibo Bojonegoro yang sudah dikeluarkan dari PSSI karena kabur dari LSI kemudian bergabung dengan LPI; PSM Medan, Persebaya Surabaya, dan Bontang FC.

Kita mencatat, PSMS Medan adalah klub peringkat ke-3 Divisi Utama pada musim lalu. Persebaya bahkan berada di peringkat ke-11 Divisi Utama dan terdegradasi ke Divisi I. Dengan demikian, keputusan pengurus baru PSSI tidak mencermikan semangat untuk mengangkat kualitas kompetisi yang akan bermuara pada prestasi Timnas. Maka, kita pun hopeless. Mestinya, tahapannya, mantan anggota PSSI ini dipulihkan dulu keanggotaannya melalui Kongres PSSI, dan untuk mengikuti KLI mereka harus mengawalinya dari level terendah, bukan diistimewakan langsung ke level tertinggi. Apa hebatnya LPI, sebuah break away league yang belum teruji keandalannya?

Apalagi, langkah pengurus baru PSSI itu berarti juga membongkar sistem kompetisi yang sudah terpola sejak lama. Semua tahu, kompetisi sepak bola profesional Indonesia telah terpola dengan adanya KLI sejak 1994, bahkan secara konkret dimulai 10-15 tahun sebelumnya dengan adanya Kompetisi Galatama. Dalam kaitan ini, sudah tersusun level-level KLI berupa LSI, Divisi Utama, Divisi I, Divisi II, dan Divisi III.

Dalam setiap periode kompetisi juga sudah terpola kaidah dengan diberlakukannya sistem promosi dan degradasi sebagai parameter prestasi klub. Dengan dimasukkannya sejumlah klub LPI ke dalam LSI, berarti PSSI menabrak beberapa hal, antara lain kaidah sebuah kompetisi tersebut, yakni promosi dan degradasi.

Perlu ditegaskan, menghilangkan promosi dan degradasi berarti merugikan klub-klub yang mendapat promosi. Membongkar sistem kompetisi yang sudah terpola dengan memaksakan masuknya sejumlah klub peserta LPI langsung ke level teratas KLI berarti menabrak Statuta PSSI yang melarang masuknya klub yang sudah diskors. Membubarkan LPI yang sudah diakomodasi dalam sistem PSSI berarti mengabaikan memorandum of understanding (MoU) Ketua Komite Normalisasi PSSI dengan pengelola LPI.

Sebelumnya, saat menentukan format kompetisi dua wilayah dengan 32 klub, pengurus baru PSSI juga menabrak aturan. Pertanyaannya, bila rezim yang ada saat ini banyak menabrak aturan, lalu apa bedanya dengan rezim yang kemarin kita caci-maki?
Semestinyalah pengurus baru PSSI konsekuen dan konsisten dengan aturan dan keputusan-keputusan KLB. Soal LPI misalnya, mestinya PSSI konsisten dengan nota kesepahaman atau MoU yang ditandatangani Ketua Komite Normalisasi PSSI Agum Gumelar dengan Direktur LPI Widjajanto pada 9 Juli 2011 atau beberapa saat sebelum KLB PSSI dibuka, di antaranya:

Pertama; PSSI akan mengurus dan mengontrol seluruh kompetisi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan LPI, termasuk aturan kompetisi, jadwal, administrasi pemain, pengangkatan ofisial pertandingan, dan tata tertib hingga hasil akhir putaran kompetisi LPI sebelum 28 Februari 2012. Kedua; PSSI tak akan menyertakan modal finansial ke LPI dan juga tak akan mendanai kegiatan LPI.

Ketiga; LPI akan berpegang pada seluruh perintah resmi dan keputusan PSSI dan juga FIFA terkait kompetisi LPI. Keempat; LPI bukan liga yang terafiliasi dengan PSSI dan juga tidak berada di bawah Statuta PSSI. Kelima; PSSI tak akan bertanggung jawab untuk membayar gaji ofisial di dalam administrasi kompetisi LPI.
Bila mengacu pada kebijakan-kebijakan yang kini telah diambil pengurus baru PSSI maka dapat dikatakan bahwa PSSI telah mengkhianati MoU itu dan juga mengkhianati amanat KLB di Solo. Ironisnya, semua itu demi politik etis. (10)

— Drs H Sumaryoto, mantan komisioner Komite Normalisasi PSSI, Ketua Indonesia Football Watch (IFW) (/)
Sumber: SUARAMERDEKA

Friday, 25 January 2013

Cerita Dewasa Perselingkuhan Paling HOT Merupakan Pemberi Pelajaran Selingkuh Terbesar

Kadang yang namanya cerita dewasa hanyalah sebuah ilusi dari sang pencerita, namun mungkin itulah yang akan dijadikan orang2 sebagai pelajaran bagaimana memulainya.
Andai bisa menjaga kehormatan mungkin akan lebih baik.
Nih baca cerita berikut:

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.
Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:
” Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang? ”
” Tidak! ” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
” Lantas untuk apa anda duduk di sini?”
” Apakah tidak boleh? ” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..
” Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
” Maksud, bapak? ”
” Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ”
” Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual ” Kata wanita itu dengan suara lambat.
” Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? ”
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
” Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ”
” Saya ingin menjual diri saya, ” Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
” Mari ikut saya, ” Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.
Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.
Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.
” Apakah anda serius? ”
” Saya serius ” Jawab wanita itu tegas.
” Berapa tarif yang anda minta? ”
” Setinggi-tingginya. .’ ‘
” Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
” Saya masih perawan ”
” Perawan? ” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini..
Pikirnya
” Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
” Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan …”
” Kalau tidak terbukti? ”
” Tidak usah bayar …”
” Baiklah …” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
” Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ”
” Cobalah. ”
” Berapa tarif yang diminta? ”
” Setinggi-tingginya. ”
” Berapa? ”
” Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ”
” Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. ”
Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.
Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
” Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? ”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Ini termasuk yang tertinggi, ” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
” Saya ingin yang lebih tinggi…”
” Baiklah. Tunggu disini …” Petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
” Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? ”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap
saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh … ”
” Saya ingin tawaran tertinggi … ” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
” Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.
Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. ” Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.
Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.
” Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? ” Kata petugas satpam itu dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu …
” Berapa? ” Tanya pria itu kepada Wanita itu.
” Setinggi-tingginya ” Jawab wanita itu dengan tegas.
” Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? ” Kata pria itu kepada sang petugas satpam.
” Rp.. 6 juta, tuan ”
” Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ”
Wanita itu terdiam.
Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
” Bagaimana? ” tanya pria itu.
”Saya ingin lebih tinggi lagi …” Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
” Bawa pergi wanita ini. ” Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
” Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ”
” Tentu! ”
” Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … ”
” Saya minta yang lebih tinggi lagi …”
Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.
Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
” Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ”
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
” Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah.
Apakah itu tidak cukup? ” Terdengar suara pria itu berbicara.
Wajah pria itu nampak masam seketika
” Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.
Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ”
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.
Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.
Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: ” Pak, apakah anda butuh wanita … Huh ”
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
” Ada wanita yang duduk disana, ” Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.
Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
“Dia masih perawan..”
Pria itu mendekati petugas satpam itu.
Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ” Benarkah itu? ”
” Benar, pak. ”
” Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu … ”
” Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya.”
” Saya tidak peduli … ” Pria itu menjawab dengan tegas.
Pria itu menyalami hangat wanita itu.
” Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah ….” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
” Mari kita bicara di kamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.
Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
Di dalam kamar …
” Beritahu berapa harga yang kamu minta? ”
” Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ”
” Maksud kamu? ”
” Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih …. ”
” Hanya itu …”
” Ya …! ”
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.
” Siapa nama kamu? ”
” Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar … ” Kata wanita itu
” Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ”
”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ”
” Ada ! ” Kata pria itu seketika.
” Sebutkan! ”
” Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit.
Dan sekarang pulanglah … ” Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.
” Saya tidak mengerti …”
” Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …”
” Dan, apakah bapak ikhlas…? ”
” Apakah uang itu kurang? ”
” Lebih dari cukup, pak … ”
” Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ”
” Silahkan …”
” Mengapa kamu begitu beraninya … ”
” Siapa bilang saya berani. Saya takut pak …
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu.
Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` … Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan … ”
” Keyakinan apa? ”
Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita … ” Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.
Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
” Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … ”
” Kesadaran… ”
.. . .
Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
” Kamu sudah pulang, nak ”
” Ya, bu … ”
” Kemana saja kamu, nak … Huh”
” Menjual sesuatu, bu … ”
” Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …
Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang
gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan
….

” Kini saatnya ibu untuk berobat … ”
Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: ” Tuhan telah membeli yang saya jual… ”.
Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata
kepada supir taksi: ” Antar kami kerumah sakit …”

Labels